Monday, January 7, 2013

Pisang Goreng, ga ada mati nya

Kalau posting sebelumnya tentang secangkir teh, sekarang tentang temannya. Bagi orang Inggris, temannya teh mungkin kue kering? Kalau bagi saya yang paling pas, pisang goreng!
Saya suka banget sama pisang goreng. Dulu sih cuek jajan beli gorengan di abang-abang, sekarang sudah gak berani lagi, walau kadang-kadang masih makan tapi itupun setahun bisa dihitung nggak sampe lebih dari hitungan 10 jari tangan. Dan berhubung juga si pisang goreng ini paling gampang cepat dan anti gagal, ya mending bikin sendiri dong ya. Kerennya lagi, isiannya nggak melulu cuma pisang, kita bisa tambah-tambahkan sesuka hati. Punya keju, boleh dicampur. Adanya kismis boleh juga. Ditaburin keju dan coklat, yummy dong pasti. Pakai wijen, gurih deh.

Nah berhubung adonannya sangat gampang, kalau saya suntuk, ngerasa kesel, sedih, bete nggak jelas saya biasanya bikin pisang goreng untuk meredakannya. Karena kalo bete biasanya kan bawaannya pengen ngemil ya, sementara saya nggak suka cemilan-cemilan dalam kemasan itu, yang paling gampang ya bikin pisang goreng aja. Karena walaupun masak bukanlah hobi yang gimana-gimana banget buat saya, tapi herannya kadang-kadang manjur mengurai kegalauan hati, ehm. Maka itu, nggak bakalan saya bikin sesuatu yang susah dan rumit, berbahan mahal pula. Yang ada nanti saya makin galau kalo ternyata gagal.

Biasanya, pisang gorengnya mateng, keselnya hilang deh :)


Friday, January 4, 2013

Secangkir teh di pagi hari

Ibu saya sering bilang begini: Kalau ada yang buatin teh atau minuman apa aja, selepas bekerja atau saat bangun tidur di pagi hari, nikmatnya luar biasa ya. Keinginan seorang ibu itu seringkali sederhana sekali ya, tapi kita anak-anaknya sering terlalu sibuk dengan diri sendiri sampai melupakan hal-hal paling sederhana yang bisa membuat ibu kita bahagia.

Sekarang setelah saya menjadi ibu, memang terasa secangkir teh di pagi hari atau sepiring sarapan itu memang priceless :) Saya berpikir, begitu kita menjadi seorang istri kemudian menjadi ibu, berarti sudah teken kontrak untuk menjadi yang paling awal bangun di pagi hari. Kecuali mungkin kalau saya punya pembantu ya. Nah sedari kecil saya nggak pernah merasakan punya pembantu rumah tangga. Setelah berumah tangga juga pembantu rumah tangga itu memang hanya membantu membereskan dan membersihkan rumah, dan itupun dia pulang sore dan datang kembali di pagi hari setiap jam 7.30, ya mana mungkin minta dia bikinin sarapan, yang ada seisi rumah sudah kelaparan dong ya.

Eh saya ini sedang mengeluh ya? Nggak iklas ya menjalankan kewajiban? Kalau mau dibilang mengeluh, ya silakan aja. Tapi jujur lho, terkadang pengen sekali-sekali bangun di pagi hari itu sudah tersedia sepiring buah-buahan segar dan segelas air jeruk nipis. Karena beberapa tahun ini, begitulah sarapan saya. Bisa bangun siang itu kalo sakit, tapi bersyukur itu jarang terjadi. Lagian ya mending nyiapin sarapan dong, daripada sakit. Apalagi kalo membandingkan dengan teman-teman saya yang harus bangun pagi-pagi buta karena harus mengejar waktu agar tidak terlambat ke kantor dan masih harus menyiapkan segala printilan supaya anak terjamin saat ditinggal seharian di kantor. Rasanya rutinitas pagi saya belum ada apa-apanya kehebohannya.

Nah makanya itu, kalau ada kesempatan menginap di hotel, bukannya kolam renang, mandi berendam air hangat, atau leyeh-leyeh di kamar hotel yang saya anggap kemewahannya. Tapi bisa sarapan pagi tanpa pusing mikirin mau siapin sarapan apa pagi ini, karena umumnya sudah tersedia segala jenis makanan yang bisa dipilih untuk anak-anak dan kita orang tuanya. Gile, mewah banget rasanya kalo udah begitu :D Tapi saya sudah merasakan beberapa kali, beberapa hari berturut-turut sarapan di hotel, bahkan pernah hampir 3 minggu, tetep bosen juga sih hahaha karena kan kalo sarapan hotel ya pasti rata-rata standard ya jenisnya, kecuali pas dapet di hotel yang bintang lima, lebih spesial biasanya sarapannya. Tapi walaupun bosen, tetep berasa mewah sih, kalo sampe masih ngomel-ngomel juga, hih jadi orang kok gak bersyukur banget sih.

Ya udah gitu aja cerita secangkir tehnya :D

Tuesday, January 1, 2013

I am dreaming of Borobudur!

Sebenarnya sudah dua kali ke Borobudur. Pertama pas kelas 4 SD sama bapak ibu dan adik. Tour de java waktu itu :) Trus yang terakhir, kurang lebih enam tahun lalu, bersama suami (belum ada anak-anak waktu itu) ikut acara puja pelita disana. Sepertinya kenangan yang terakhir itu deh yang bikin saya pengen balik lagi ke Borobudur, tapi dalam suasana yang lebih hening. Dan belakangan ini kok makin berasa kemimpi-mimpi pengen ke Borobudur. Apalagi Citta suka banget ngeliat patung, setiap patung dia sebut Patung Buddha. Citta ini sepertinya anaknya seleranya memang lebih cenderung ke saya deh, suka yang etnik-etnik, suka yang alami gitu. Bedanya cuma Citta suka binatang, saya biasa aja :) Plus lagi, beberapa orang yang saya follow di Instagram (oh yeah i fall in love with Instagram right now) jalan-jalannya ke Jogja dan udah pasti dong ada ke Borobudurnya.

Yang saya inginkan saat ada kesempatan ke Borobudur lagi adalah:
Menginap di penginapan terdekat dengan Borobudur. Saya ingin disana 2 hari 2 malam, besoknya baru menginap di Jogja. Saya ingin yang terdekat, karena ingin bisa menikmati pagi di candi Borobudur (bila perlu sunrise, kalo seandainya anak-anak bisa bangun sepagi mungkin). Kemudian siangnya kami kembali dulu ke hotel untuk makan siang dan istirahat, sorenya kembali lagi ke Borobudur. Kalau memungkinkan saya ingin meditasi disana, setidaknya barang 10 meniiit saja. Saya ingin merasakan aura candi itu (duh sambil menuliskan ini kok saya merinding ya). Katanya kan untuk keliling candi itu butuh waktu seharian, jadi pasti banyak lokasi-lokasi sepi yang tidak didatangi turis, nah inginnya saya,suami dan anak-anak bisa berdiam diri sejenak, meresapi keindahan Borobudur, merasakan getaran khususnya (kalau pas dapet ya, kalo bisa dapet waduh nggak kebayang perasaannya gimana nanti).

Maka itu saya sudah survey untuk menghitung budget,hmmmm untuk berempat cukup tinggi budgetnya  hiks (kok lebih murah liburan ke singapura siiiih). Gimana dong orang-orang gak milih ke luar negeri aje kalo begini. Yang paling berasa itu sih tiket pesawatnya, walaupun saya sudah bandingkan Air Asia dan Garuda, tetep mahal :( Kalo lewat darat sih kayaknya belum memungkinkan ya saat ini.

Kalau hotel, karena udah biasa liat harga hotel di Bali, jadi ngeliat harga hotel di Jogja gak terlalu kaget (bisa dibilang lebih murah) apalagi rent car nya, hampir setengah harga dibanding Bali. Tapi saya udah punya inceran hotel yang saya pengen kalo jadi ke Borobudur. Yaitu Plataran Borobudur.
Ini salah satu foto yang ada di websitenya:

Kalau foto-foto di website mungkin bisa 'menipu' ya, tapi saya lihat foto-foto di Instagram, memang asli indah gila! Kebayang nggak sih bangun tidur dengan melihat pemandangan seperti itu, Borobudur yang agung di kejauhan :). Mau ke Borobudur pun dekat. TAPI, harganya uhuk! bikin saya batuk.

Pilihan lain adalah Manohara Resort. Dari harga, sesuai budget, lokasipun sangat ideal hanya 5 menit jalan kaki ke Borobudur, karena letaknya memang di dalam kawasan Wisata Borobudur.
Ini view juaranya menurut saya kalo di hotel ini:

Nah setelah (mama) puas di Borobudur, baru deh kita ke Jogja, rencanya pengen ajak anak-anak ke sience centre nya. Kuliner? Ya pas laper atau waktunya makan pasti makan lah, nggak nguber pengen nyobain apa-apa di Jogja, dulu udah pernah. Belanja baju, perak, atau apa-aja-penanda-jalan-jalan-ke-jogja, nggak kepengen juga, dulu juga udah pernah (sombong huahahaha).

Jadi, kemana dulu nih? London, Perth atau Jogja? #ini pilihan bingung orang kebanyakan maunya tapi duitnya nggak kebanyakan huahahahaha ketawa miris ini sih.

Wednesday, December 19, 2012

kenapa kami memilih sekolah itu?

Sepertinya gara-gara saya pernah menulis note di Facebook tentang betapa bingungnya saya menentukan pilihan sekolah untuk Bodhi si sulung, maka beberapa teman yang saat ini mengalami kebingungan yang sama dengan yang saya alami dulu sepertinya mengingat hal itu dan bertanya kepada saya mengapa akhirnya saya memutuskan memilih sekolah Bodhi yang sekarang dari sekian banyak sekolah dan sekian banyak kriteria yang saya tetapkan (oh yeaaa mungkin banyak memang yang dulu menganggap saya lebay soal memilih sekolah, sampe nulis note segala haha). Apalagi saya mungkin keliatan adem-adem saja semenjak Bodhi bersekolah disana. Ternyata dijadikan acuan oleh orang lain itu berat bebannya saudara-saudara. Walaupun saya sesungguhnya tak pernah berpromosi, kalau saja menyebutkan beberapa kenyamanan yang saya dan Bodhi rasakan masih tetap mau dianggap berpromosi, yah apa boleh buat. Tapi sekalipun saya tak pernah memaksa apalagi mengajak secara halus ataupun terang-terangan untuk bersekolah disana. Karena saya sendiri tahu dan merasakan, yang dikatan bagus oleh orang lain belum tentu sesuai dengan kebutuhan kita, dalam hal apapun! Bukan hanya soal pilihan sekolah.
Dengan begitu banyak pilihan sekolah saat ini, justru menurut saya bukan memudahkan tapi makin membingungkan. Yang ini menyatakan berstandar international, yang itu menyatakan sekolahnya dijalankan dalam lingkungan religius, yang disini bilang sekolahnya sekolah Holistik, yang disitu bilang sekolahnya adalah sekolah alam. Pusing? Tentu!! Apalagi untuk semua itu biayanya tidak ada yang murah. Walau murah mahal itu relative, tapi disini tetap saja berlaku ada harga ada rupa. Maka dari itu saya menempatkan kriteria biaya bukan yang utama, tanpa bermaksud sombong atau serasa tak kekurangan uang, tapi saya mengerti sekali untuk sekolah yang baik itu perlu biaya terutama untuk kesejahteraan gurunya dan menjaga kenyamanan lingkungan sekolahnya. Sekolah yang nyaman itu bukan saja yang fasilitasnya mewah lho, tapi termasuk juga yang keamanannya baik (perlu biaya untuk bayar gaji satpam, untuk pasang CCTV,dsb). Sekolah yang nyaman itu termasuk juga sekolah yang terjaga kebersihannya (perlu biaya perawatan  bukan?). Tapi, walaupun bukan kriteria nomor satu, tapi tetap masuk dalam daftar kriteria saya, karena tidak mungkin saya memaksakan diri masuk ke sekolah yang uang bulanannya lebih besar dari pendapatan kami per bulannya.
Jadi sekarang-sekarang ini kalau ada yang bertanya, mengapa saya memilih sekolah itu? Saya jawab, karena sekolah itu memenuhi beberapa point dalam kriteria yang kami tetapkan. Oh kenapa tidak mencari sekolah yang memenuhi semua kriteria?? Ya, kalau saya ngotot seperti itu anak saya bisa-bisa nggak sekolah TK dong :D Memangnya ada yang sempurna? Setidaknya sempurna menurut perkiraan kita?
Atau jika ada yang nembak langsung: Memangnya sekolahnya bagus ya? Maka saya akan balik bertanya, kriteria bagus untuk kamu sebagai orangtua dan juga menurutmu akan bagus untuk anakmu, apa? Karena mungkin kriteria kita berbeda.
Jadi kriteria kami apa, dong? Ini dia, kalau ada yang ngotot pengen tahu :)
1. Jarak tempuh dari rumah tidak terlalu jauh, maksimal 30 menit dengan kendaraan. Anaknya masih TK lho ini, lain urusan kalau sudah SMU bahkan kuliah. Mau ke luar negeri ya saya juga ijinkan asal memang ada dananya :D Atau dia bisa mengusahakan beasiswa untuk dirinya sendiri. Dengan memasukkan kriteria jarak saya sudah mempersempit pilihan dari sekian banyak pilihan.
2. Lingkungan sekolah termasuk keamanannya, kapabilitas guru-gurunya, suasananya yang menyenangkan (dimana-mana kalau hati senang, apapun mudah dipelajari kan? Bukan hanya yang science, math, dsb, tapi pendidikan tentang disiplin dan tata tertib pun akan lebih mudah menempel).
Tapi sekolah yang nyaman bukan berarti saya senang lho kalo anak kami lebih memilih tinggal di sekolah daripada pulang ke rumah, waduh kalo itu terjadi kami langsung merasa gagal menciptakan rumah yang nyaman untuk anak-anak saya.  Idealnya bagi kami, saat di sekolah dia senang, saat waktunya pulang diapun merasa senang tidak terpaksa atau sebaliknya saat harus ke sekolah dia merasa senang bukan karena dipaksa.
3. Biaya. Karena kami bukan bayar uang sekolah pakai daun, maka sudah pasti biaya ini masuk kriteria. Karena sudah terbukti, walaupun ada harga ada rupa, tapi yang mahal sekali belum tentu yang terbaik dan sesuai kebutuhan kita.

Sudah, itu saja kriteria kami. Tidak ada kriteria sekolah agama nya? Tidak ada :) Kenapa? Jangan banyak bertanya ke saya kalau soal agama, karena agama bagi saya individual sekali, jadi biarkan kami saja yang tahu alasannya.

Bagaimana dengan bahasa pengantar di sekolah? Sekali lagi kami punya pemikiran sendiri. Jika sekarang Bodhi bersekolah di tempat yang berbahasa utama bahasa Inggris, bukan sok-sok an ya. Karena Bahasa tidak masuk dalam kriteria sewaktu memilih sekolah, seandainya sekolahnya berbahasa Bali utamanya, tapi kalau ternyata dia masuk semua kriteria kami di atas, maka kami akan masukkan Bodhi kesana :) Ketemunya yang pas, ya kebetulan yang berbahasa Inggris. Kebetulan juga Bodhi sudah terbiasa mendengar percakapan dalam bahasa Inggris. Di rumah dia terpapar bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, sedikit mandarin, sedikit bahasa Bali, Jadi kalau sekolah yang masuk kriteria itu berbahasa Rusia misalnya, hmmmm kami masih akan berpikir ulang. Lha nanti kalau dia ada nyerocos bahasa Rusia, gimana saya menanggapinya ??? Jadi kalau dibilang kami tidak Nasionalis, nah di rumah kami berbahasa Indonesia kok, dan Bodhi juga berbahasa Indonesia. Sementara di sekolah, dia akan nyerocos berbahasa Inggris. Sekali lagi, kalo dia bisa paham selain dari Bahasa Indonesia, kenapa tidak? Dengan neneknya kadang-kadang diajak berbahasa Bali atau ketemu nenek Palembang, diajak berbahasa Palembang atau mandarin.

Nah balik lagi kepada banyak teman-teman yang bertanya. Ada yang akhirnya ikut sekolah di tempat yang sama, ada yang puas banget ada juga yang sedikit merasa melenceng dari sekolah ideal sesuai kriterianya. Dari yang baru datang mencoba, ada yang merasa sreg tapi masih bingung apakah anaknya sudah betul-betul butuh bersekolah, dan ada juga yang langsung berkomentar, seperti rumah tidak seperti sekolah. Atau ada juga yang bilang, keci ya sekolahnya :) Jadi, dari sedemikian beranekaragam tanggapan, semakin membuat saya lebih berhati-hati dalam menjawab, mengapa saya memilih menyekolahkan anak disana. Alih-alih berpromosi atau membuat pembenaran atas pilihan saya, saya akan menyarankan si penanya untuk langsung datang ke sekolah, bertemu para staf pengajarnya, merasakan bagaimana suasana di sekolah dan hubungan antara guru dan murid. Tentunya sebelum datang, dia harus berbekal kriteria-kriteria sesuai kebutuhan orang tua dan si anak terutama. Berdasarkan pengalaman pribadi, ketika kita datang dengan kesiapan, klik atau tidaknya bisa langsung terasa di kesan pertama :) Tapi sebaiknya cari juga sekolah yang menyediakan kesempatan uji coba lebih dari sehari karena sehari bagi saya tidak cukup untuk merasakan 'feel' nya, dan juga bukan sekedar datang saat open house, dimana kebanyakan semua kondisi dan situasi sudah 'disiapkan ideal'. Oh ya, mengapa mesti sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan yang katanya orang baik yang katanya orang bagus? Karena bagi saya pribadi, sekolah dan guru-gurunya adalah partner saya dalam mendidik anak, karena semakin dia besar dan semakin tinggi kebutuhannya akan sosialisasi selain keluarga intinya saya jujur mengakui ada hal-hal yang membuat saya butuh bantuan pihak lain untuk memenuhi kebutuhan itu. Kami sadar kami bukan wonder parent, ada hal-hal dimana kami butuh bantuan. Tapi pendidikan utama tetap di pundak kami orangtuanya. Karena sejujurnya dari hati yang paling dalam, saya mengakui kalau saya lebih bangga jika anak saya bisa sesuatu karena dia tahu terlebih dulu tahu dari orangtuanya. Saya lebih merasa terhormat sebagai orangtua, ketika dia bisa bersikap baik karena dia belajar dari orangtuanya. Sekolah hanya melengkapi dan menguatkannya, makanya kami tidak mencari sekolah yang justru memporakporandakan pondasi yang sudah susah payah kami bangun dari rumah. Kami mencari partner yang menguatkan bukan mencari tempat dimana kami bisa menitipkan anak hanya demi sekedar bebas sejenak dari tanggung jawab mendidiknya.
Semoga pilihan kami tidak salah. Dan jikapun ternyata salah, kami akan mengakuinya dengan besar hati karena ini pilihan kami bukan berdasarkan provokasi orang lain. Jadi tidak mungkin mencari kambing hitam kan? Berkurang secuil dosa kami :)

Saturday, October 13, 2012

Ulang Tahun

Entah kenapa ya, sejak masuk usia kepala 3 saya ngerasa ulang tahun itu 'beban'. Bukannya nggak bersyukur sudah dikasi kesempatan sampai sejauh ini. Tapi beban itu hubungannya dengan perayaannya. Kalo sebelum-sebelumnya, mendekati ulang tahun itu urusannya nggak jauh-jauh dari mau traktir siapa dan dimana, atau mau ngapain pas ulang tahun bersama siapa atauuuu pengen kado apa? Yagitudehhh berhubung saya bukan seorang yang punya resolusi ulang tahun (terkadang saya ngerasa diri saya ini terlalu santai tak bertarget), saya jarang sekali hmmm bahkan nggak pernah deh kayaknya meniatkan di usia sekian harus sudah jadi begini-begitu atau sudah punya ini dan itu.
Seperti halnya perlakuan kepada diri sendiri di saat ulang tahun, maka untuk orang lain pun saya berbuat yang sama, kalau ada anggota keluarga atau teman yang berulang tahun, saya sudah sibuk mikirin mau kasi kado apa, mau kasi ucapannya yang seperti apa supaya nggak pasaran dan berkesan. Bahkan untuk keluarga terdekat saya sering menyiapkan acara ulang tahun mereka. Bagi saya ulang tahun adalah sebuah perayaan dengan makan-makan dan kumpul-kumpul, saling kasi kado.
Nah makin kesini, makan nambah usia, saya merasakan sebuah penurunan semangat perayaan ulang tahun yang seperti itu. Saya malah ngerasa agak shock kalo ulang tahun, hah udah umur segini??? Udah ngapain aja?? Kok rasanya cepet banget waktu ya, kadang sejujurnya saya ngerasa saya belum waktunya umur segini. Hahaha ini sih namanya penyangkalan penuaan diri ya.
Dan akibatnya dari perasaan ini, sudah bertahun-tahun saya sangat jarang memberi ucapan selamat ulang tahun kepada teman-teman di FaceBook yang statusnya hanya sekedar teman tanpa pernah bertegur sapa intens. Eh padahal mestinya moment ini yang saya manfaatkan untuk bertegur sapa lagi ya, tapi kok ngeliat time line mereka yang penuh dengan ucapan selamat ulang tahun, saya jadi mengurungkan niat. Yah kadang aja kalo lagi rajin, saya like aja salah satu ucapan selamat ulang tahun dari temannya teman saya hehehe itu sih tetep males ya namanya. Tapi saya tetap berdoa dalam hati, semoga berbahagia selalu ya temanku :) Tapi nggak berlaku sih buat mereka yang tetap intens berkomunikasi dengan saya. Saya menyempatkan diri memberi ucapan selamat dengan kata-kata yang standar tapi sangat bermakna buat saya pribadi. Semoga selalu berbahagia setiap saat. Bahagia itu bisa apa saja kan, dan tentu standar bahagia tiap orang berbeda, dan itu yang saya harapkan bagi mereka yaitu berbahagia dalam kondisi apapun yang mereka sedang alami sekarang. Dan untuk mereka yang saya anggap dekat, saya kasi ucapannya nggak di TimeLine FB nya, tapi saya lebih suka mengirimkan email pribadi. Atau kalau saya punya messanger id nya, saya sapa langsung saja, atau saya sms kalo temen saya itu nggak aktif di FB. Kalau untuk anggota keluarga dekat, saya tetap berusaha bicara langsung, untuk yang lokasinya jauh ya lewat telpon :)
Dan perasaan ini juga yang bikin saya nggak mau ngasi tanggal ulang tahun saya ke FB. Saya bukan tipe yang menyembunyikan umur kalo ditanya, bukan artis ini hehehe. Cuma saya 'malas' menerima ucapan selamat ulang tahun bertubi-tubi hanya karena muncul notification di FB. Berartti mereka nggak inget saya karena saya orang yang berkesan buat mereka, hehehe sebel ya dengan perasaan saya ini?? Ya mau gimana lagi, jujurnya memang begitu. Dan bukan sombong, makin kesini saya nggak ngerasa senang dikasi ucapan selamat ulang tahun (walaupun mungkin yang menuliskan itu memang bersungguh-sungguh ya tidak sekedar wajib setor ucapan hanya untuk dianggap peduli). Saya nggak terlalu gimana gitu dengan ucapan setahun sekali ini, jadi kalo ada yang nggak ngasi ucapan saya malah nggak ngerasa beban hutang harus inget juga ngasi ucapan ke dia saat ulang tahunnya. Apaseeeh kok jadi itung-itungan. Saya sendiri juga sempat ngerasa nggak enak ati lho dengan perasaan saya ini. Kok saya jadi manusia hitung-hitungan, hanya untuk ucapan selamat ulang tahun. Padahal dulunya (sampe sekarang sih masih tersisa sih) saya ini termasuk pengingat ulang tahun teman dan saudara saya lho. Tapi belakangan ini saya sering mengabaikan saja kalau mereka nggak deket-deket banget. Cumaaaa dulu juga saya sudah hitung-hitungan ternyata. Saya BERHARAP ulang tahun sayapun diingat. Dan ketika mereka lupa, saya KECEWA. Nah begitu saya ketemu dengan kesimpulan ini, saya merasa lega. Dulu saya sudah menimbulkan penderitaan bagi diri saya sendiri. Sekarang saya sudah membuat sederhana kehidupan saya. Saya hanya melakukan sesuatu yang saya senangi, termasuk memberi ucapan kepada siapa saja yang memang mau saya salami, jadi saya rela jika seandainya tidak diingat ulang tahun saya oleh mereka yang saya kasi ucapan, karena saya senang memberinya ucapan dan doa bukan karena kewajiban semata. Dan itu ternyata menenangkan jiwa saudara-saudara hehehe.
Perubahan pandangan mengenai ulang tahun juga membuat saya menyederhanakan doa ulang tahun saya. Bagi diri sendiri maupun bagi mereka yang saya salami. Saya hanya ingin mereka bahagia setiap saat. Nggak ada lagi itu, semoga hidupmu bermakna setelah ulang tahun (berarti sebelumnya nggak bermakna??), semoga dikarunia panjang umur (panjang umur tapi sakit-sakitan apa bahagia?), semoga tercapai yang dicita-citakan (ah kalau yang itu saya pribadi malah pengennya tercapainya nggak setahun sekali, kalo bisa saat ini aja gak usah nunggu ulang tahun hihihi) dan bla bla bla. Saya hanya ucapkan semoga berbahagia. Karena bahagia itu, sehat jasmani rohani sudah termasuk, perasaan tercukupi walaupun cita-cita setinggi langitnya belum terkabul adalah bahagia yang sebenar-benarnya.
Eh tapi, kalau saya merasa cukup dengan ucapan singkat padat itu, belum tentu yang nerima ngerasa begitu dong ya. Mana tahu mereka inginnya didoain yang panjang lebar. Ya itu nggak bisa saya kontrol sih hihihi, Yang jelas semoga mereka tahu, saya memberi ucapan dengan energi sukacita yang sesungguhnya lho, saya BENAR-BENAR ingin doa saya itu berhasil di mereka. Jadi yang tidak saya kasi ucapan ulang tahun langsung, yaaa mungkin bagi mereka HANYA berupa like di FB, atau saya berucap dalam hati tanpa mereka bisa tahu, tapi saya sungguh-sungguh. Oh ok, mungkin ada yang bilang, apa susahnya ngetik HBD, panjang umur ya! Terkadang bagi beberapa orang itu sangat berarti lho! Yaaaa itulah seperti apa yang saya bilang, saya hanya mencoba menyederhanakan hidup saya. Toh sudah banyak kok yang kasi selamat, kalaupun saya memberi saya juga ingetnya karena lihat notofication di FB, biarlah ucapan saya menjadi lebih bermakna karena saya senang melakukannya. Nah buat yang memang senang mengetik ucapannya, ya monggo lho ya, selama melakukannya memang karena senang, bukan semata merasa wajib menulis :)
Belakangan ini temen-temen saya yang walaupun masih berkomunikasi tapi lupa sama ulang tahun saya,yaeyalah hari gini yang perlu diinget kan makin banyak dan makin kompleks, ingetnya saya ulang tahun kalau ada postingan cake yang di tag ke saya, oleh siapa lagi kalau bukan suami saya hehehe. Jadi seringnya udah telat beberapa hari gitu baru ada beberapa ucapan buat saya plus sorry sorry karena telat. Hey, sekedar kalian tahu teman-temanku yang baik, nggak perlu sorry, seriuuussaaan. Saya malah senang, udah lewat hari H masih didoakan, muahaahahaha. Itu namanya dapat doa setiap hari setidaknya selama seminggu ke depan :D
Ya begini deeeh, tulisan nggak jelas karena galau udah tua ngerasa belum berbuat apa-apa.
Selamat pagi.... (ayam tetangga mulai ribut, saatnya saya tidur lagi, luamayan kan ini hari minggu bisa lanjut tidur sampe siang. Kan katanya cukup tidur itu salah satu cara mencegah penuaan dini, ahuehuehuehuehe)

Friday, September 28, 2012

Jangan Bunuh Mimpimu

Beberapa hari ini sibuk banget di florist. Padahal Bodhi sedang liburan, pengennya ngisi liburan dia dengan banyak kegiatan kreatif supaya dia lupa dengan youtube. Soalnya, kalo udah nganggur nggak jelas mau ngapain, dia pasti keingetnya buka-buka youtube. Kadang nonton film, kadang liat-liat gambar pesawat, gambar angry bird, gambar apapun yang dia suka. Karena dia sudah mulai bisa mengetik sendiri apa yang dia mau cari, jadi makin seru kayaknya dia. Dan alarm mulai menyala nih, meminta saya mesti waspada. Nanti deh kalo rajin saya mau cerita gimana usaha-usaha saya untuk mengalihkan perhatian dia dari youtube, termasuk dengan bercerita. Saya kali ini pengen cerita tentang ketakutan saya sebagai ibu yang bekerja di rumah, bekerja sebagai ibu rumah tangga plus bekerja mencari uang supaya bisa sering jalan-jalan travelling, hehehe

Sebagai manusia, saya jujur membutuhkan sesuatu hal untuk menunjukkan eksistensi saya. Impian sederhananya sih saya ingin bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi siapa saja, yang akhirnya adalah semua orang bisa berbahagia karena saya. Wah itu sih misi nya Bodhisatwa ya hahaha. Itu tujuan manusia sederhana, tapi karena saya masih manusia yang belum sederhana, masih complicated, maka saya masih ada keinginan menjadi sesuatu itu untuk memberi tahu pada dunia, bahwa saya ada :D Singkatnya, impian saya adalah lulus kuliah bisa bekerja di tempat sesuai idaman. Pengen nunjukin ke orang-orang, kalo ditanya kerja dimana? Begitu saya sebut nama perusahaannya, kebanyakan orang-orang tahu itu dimana. Sebagai manusia yang sebaiknya adalah selalu bersyukur, maka saya mengatakan, hampir semua tempat yang saya inginkan bisa bekerja, bisa saya dapatkan, walau untuk mendapatkannya selalu ada penunda yang seringnya disebut kegagalan, tapi di belakang hari saya baru bisa menyebutnya hanya sebuah pencapaian yang tertunda, masalah waktu. Sesuai jurusan kuliah, tentu dong saya yang dulu naif itu (sekarang juga masih kadang naif sih) maunya bekerja sesuai jurusan kuliah. Akhirnya sayapun selalu bekerja di bidang IT, tukang komputer lah. Dan seiring berjalannya waktu, saya kemudian menyadari disana bukan passion saya. Akhirnya saya ya jadi begitulah, kalo ada problem, bukannya semangat mencari troubleshooting tapi malah berkeluh kesah seperti tak bersyukur. Bodoh lah pokoknya. Bukan ide kreatif yang muncul, tapi seringnya mentok. Pas kerja di tempat terakhir, karena sudah ada suami, sering ngeluhnya sama suami sampe kadang nangis-nangis kalo mesti lembur atau kerjaan lagi banyak banget masalahnya. Cengeng memang. Tapi saya sadar  sebenarnya kalo itu nggak baik, nggak sehat. Kalau orang bilang cintailah pekerjaanmu, cintailah apa yang sudah kamu punya, sayapun sudah berusaha mencintainya sepenuh hati. Tapi cinta tak bisa dipaksakan bukan? Akhirnya sayapun mulai merencanakan mundur dari IT dan memilih apa sih yang saya suka. Saya tahu kalau saya ini suka sekali mendekorasi. Suka liat yang indah-indah (eh siapa sih yang nggak suka?) dan saya suka sekali bunga. Bisa betah saya browsing gambar-gambar rangkaian bunga atau dekorasi-dekorasi pesta yang dihias bunga. Apalagi kalau sudah mentok di programming, itu pelarian saya di kantor hihihihi. Dan suamipun tahu itu, maka dia selalu menyemangati untuk resign dan memulai sebuah pekerjaan yang berhubungan dengan bunga, tapi saya yang masih takut. Takut tidak punya penghasilan sendiri lagi, males banget harus minta-minta ke suami untuk beli baju, sepatu, tas. Pengen bisa nabung dari duit sendiri juga dong, begitu konsep wanita mandiri ala saya hahaha. Tapi saya tidak sepenuhnya menolak usulan suami, sejak masih bekerja di tempat terakhir saya mulai menjalankan jualan bunga online, pede banget hahaha tanpa bekal pengetahuan bisnis, hanya hobi jualan. Apa aja yang halal saya jual hahaha, sampe sempet buka kantin di cubicle, jual cemilan juga jualan hardware dari toko komputer suami ke sesama teman, bahkan saking kreatifnya (eciyeee ngaku kreatif) jualan pake sistem komisi lho dan inget banget dulu teman-teman saya yang baik-baik itu ikut jualan, serius banget jualannya sampe pasang di status YM dan yang minat beli akhirnya temen-temennya yang nggak tinggal di Bali dan akhirnya mereka bingung sendiri dengan deliverynya hahaha. Oh ya bahkan jualan cemilan saya sampe buka cabang di tiap lantai, atas permintaan pelanggan dengan alasan biar nggak capek ke tempat saya. Dan tiap cubicle yang menjadi outlet biasanya menawarkan diri sendiri supaya cubiclenya dijadikan outlet cabang huahaha. Trus ditempel tulisan @yumart. Meja saya bahkan kadang jadi tempat meeting manager-manager sambil ngemil, mereka bikin kopi atau teh trus nongkrong deket meja saya sambil ngunyah cemilan. Ehtapi dari kabar terakhir, pas saya resign ada yang ikut-ikutan bikin snack corner, tapi akhirnya ditutup si boss besar. Gak boleh jualan di kantor katanya, duh kesian :( Ah jadi kangen teman-teman gara-gara cerita begini.
Menjalankan bisnis jualan bunga online sambil kerja kantoran, tetep nggak enak. Walaupun masih belum rame, tapi kalo ada pesanan saya jumpalitan sendiri karena biasanya orang order bunga itu mendadak. Maunya diantar hari itu juga. Duh, sampe semua orang di tokonya suami ikutan rempong mengurus delivery, sementara bunga sudah saya rangkai di tangga darurat kantor,bunganya beli dimana? Kebetulan dekat kantor ada supplier bunga potong, jadi pas jam istirahat beli bunga trus rangkai. Nanti karyawan suami mengambil ke kantor saya dan mengirimnya ke alamat, suami saya juga pernah kok kebagian tugas delivery, baik banget ya dia??? Suami siapa sih itu, qiqiqiqi
Walaupun sudah mulai membuka jalan untuk kerja di rumah saja (salah satu cita-cita kalo udah punya anak), saya tetap belum berani meninggalkan pesona gaji bulanan. Apalagi, si anak yang menjadi motivator belum kunjung datang dibawa burung bangau hehehe. Dan akhirnya ketika saat itu tiba, saya positive hamil Bodhi, yeayyy!! Dan keinginan resign tak terbendung lagi, apalagi saya pernah blated ovum sehingga gagal meneruskan kehamilan, maka saya tak mau kehilangan kesempatan lagi. Dan singkat cerita sayapun resign. Dan masuk ke tahap baru. Pengangguran yang mual-mual hahaha. Oh ya sementara masih bekerja saya juga sudah buka toko bunga di samping toko suami dengan satu karyawan. Yang sebenernya cuma jadi penunggu toko aja, karena 99 persen tetep saya yang kerja :( Tapi dia sih yang mau digaji dengan penawaran saya waktu itu. Memang ya, ada harga ada rupa :D Tapi lumayanlah biar ada yang nungguin. Tapi saya masih menganggap diri saya pengangguran tak berpenghasilan, karena toko masih sepi banget tapi saya nggak terlalu peduli karena saya sedang bahagia-bahagianya dengan kehamilan saya. Sayapun menjadi ibu hamil yang ceria hihihi. Tapi itu nggak bertahan lama dong, cuma sebulan saya udah nggak betah pengen kerja lagi tapi kali ini yang lebih santai, dan nggak sengaja (eh sengaja sih kayaknya) ngeliat lowongan kerja di koran kalau ada Sekolah national plus yang butuh guru komputer #heh komputer lagi? Lokasinya dekat rumah, sekolahnya keren dan tahu tidak menjadi guru itu adalah cita-cita pertama saya disaat teman-teman lain ingin jadi presiden atau business woman hahaha. iya lho, temen2 SD saya udah banyak yang nulis cita-citanya begitu. Jadilah saya mengajar dengan perut gendut dan sering jadi bahan pertanyaan anak-anak murid, lucu-lucu dan polos hehehe. Sampe akhirnya waktunya melahirkan, dan saya cuma dikasi cuti sebulan karena nggak ada guru pengganti katanya, trus saya milih resign aja deh soalnya setiap mau ngajar nggak tega ninggalin Bodhi walaupun hanya 2 jam. Oh ya karena saya kekeuh mau resign akhirnya ditawarkan ngajar part time, dan karena nggak tega juga ninggalin murid di tengah-tengah begitu akhirnya saya terima tawarannya. Sampe akhirnya habis tahun ajaran, saya bener-bener resign karena saya ngerasa nggak bertanggung jawab hanya kerja 2 jam,sementara untuk nyiapin bahan pelajaran di rumah aja rasanya udah gak ada waktu, kasian murid-muridnya hanya dapat materi asal-asalan dari gurunya.
Singkat cerita akhirnya resign, lalu apa kabarnya florist? Masih tersendat-sendat. Tapi karena saya sibuk ngurus anak, saya gak terlalu mempermasalahkan. Hanya kadang-kadang aja tiba-tiba kepikiran gimana mengembangkan florist. Tapi tetap lebih cenderung ke ngurus anak aja. Tapi seiring berjalannya waktu, begitu Bodhi makin gede juga saya mulai dapet order bunga pengantin, kecil-kecilan tapi seneng banget karena itu memang tujuan jangka panjang florist saya. Mulai kebuka jalannya. Ternyata itu awal yang baik, dari satu pemesan itu ternyata dia posting di weddingku.com karena dia puas dengan bunga saya. Katanya harganya reasonable, bunganya bagus dan mbak ayunya baik, ehm qiqiqiqi. Dia juga kasi no HP saya, jadi saya bisa deteksi kalo yang nanya dan minta penawaran langsung ke HP kemungkinan besar tahunya dari weddingku. Karena sebenernya kalo bukan karena terpaksa, saya tidak memberikan no HP saya kepada orang yang tidak saya kenal. Dan yang nemu postingan itupun bukan saya, tapi temen yang sedang merencanakan weddingnya nggak sengaja baca testimoni itu di forum. Saya bersyukur banget tentunya, sebuah awal yang baik kan untuk masa depan florist saya. Makin kesini, saya makin bersyukur, walaupun kebanyakan dekor kecil-kecilan atau support wedding (maksudnya pengantin udah dapet bunga dari WO tapi dia masih pengen nambah dan tahu sendiri harga dari WO itu mencekik leher, akhirnya mereka nyari florist di luar). Seringnya dapet yang begitu, walaupun figuran saya tetep happy. Pokoknya apapun yang saya dapet dari florist selalu saya syukuri dengan sukarela, heran kan? Nggak ada yang maksa, pokoknya selalu beryukur besar ataupun kecil dapetnya.
Dalam berbisnis atau pekerjaan apapun tentunya selalu ada tantangannya. Dan tantangan terbesar yang saya rasakan saat ini adalah soal karyawan. Sudah disayang-sayang ngga pernah ngomel, batas bawah gaji adalah upah minimum rata-rata, bonus dan lemburnya ada tapi seringnya susah banget dapetnya. Ada sih yang bertahan, dan umumnya yang bertahan ya memang yang baik-baik juga. Mungkin diseleksi alam ya, hanya yang baik dikasinya :) Tapi manusia kan serakah ya seringnya hehehe pengen dapet lebih banyak lagi. Muahahaha ketawa setan. Jadinya sering ribet itu,kalo orderannya lagi numpuk di hari yang sama, jadi satu orang pegawai yang delivery itu mesti bolak-balik, nggak hemat waktu kan. Takutnya dia juga kecapean, karena lalu lintas di Bali sekarang juga nggak bersahabat :( Tapi ya tetap harus bersyukur karena masih ada orderan walaupun rasanya kadang mumet management waktunya. Ya management waktu saya juga management waktu karyawan juga, supaya semua beres di hari itu dan mereka nggak kecapean. Pokoknya dibisa-bisain lah. Kalau untuk management waktu saya kepengennya bisa handle semua, ngerasa wonder woman padahal letoy hahaha. Kalo pas lagi sibuk banget, suka sedih ninggalin anak-anak di rumah sama papanya. Berasanya tanggung jawab utama jaga anak kan di istri ya (pikiran saya kadang masih tradisional), tapi toh nggak sering-sering juga ninggalin anak dan masih sama papa nya, atau kadang kalo ibu saya sempet beliau datang untuk jagain. #menghibur diri.
Beberapa waktu belakangan ini saya ngerasa sanggup nggak ya saya melanjutkannya. Anak-anak semakin besar itu bagi saya makin gede tanggung jawabnya, bukan lagi sekedar nyiapin makanan sehat buat mereka, tapi quality time menjadi issue yang lebih penting lagi, takut mereka kebablasan melakukan hal-hal yang tidak baik bagi perkembangan jiwa mereka. Saya khawatir kalo saya terlalu sibuk, anak-anak kurang diperhatikan. Apalagi belakangan ini yang mana florist kekurangan tenaga kerja, rasanya capek banget. Karena jadi dilema, seneng banyak ordernya tapi bingung pontang panting ngaturnya supaya semua terselesaikan tepat waktu dan customer puas, tapi masih kepikiran juga supaya karyawan nggak kecapean. Karena walaupun bagi kita sudah kasi bonus dan uang lembur cukup, terkadang uang bukan yang jadi masalah. Tapi yaaaa saya berusaha yang terbaik sajalah, mudah-mudahan yang sudah saya lakukan tidak membuat karyawan sebal dan berhenti karena sikap saya, tapi ya memang karena dia nggak cocok dengan kerjaannya.
Mungkin ini ujian ya, dimana saya ditest sanggup nggak dikasi kerjaan yang lebih besar lagi. Kalau yang beginian sudah lulus, semoga kedepannya florist saya bisa makin berkembang, bisa rekrut banyak orang sehingga bisa memberi lapangan kerja buat orang lebih banyak lagi. Selain itu saya tentu dong tetep kudu harus mesti menjaga keluarga kecil saya, tahu kapan waktunya untuk cukup dengan kerjaan, dan hanya memberikan waktu sepenuhnya untuk keluarga. Soalnya kerja di rumah itu sebenernya kerjanya 24 jam , kalo kerja kantoran mungkin bisa nine to five. Pas lagi sama keluarga, ya telpon bunyi. Ada yang buru-buru minta dikirimin email, sementara lagi sama anak-anak. Apalagi bagi florist saya yang masih skala kecil begini, saya itu walaupun yang punya ya kadang lebih capek kerjanya, ya mikirnya ya kerjanya juga. Mesti telaten dan bener-bener memperhatikan komunikasi dengan customer supaya mereka nggak kabur karena kita salah sikap, atau gimana supaya kita nggak dimanfaatin juga karena terlalu baik sama customer. Capek mental kadang-kadang, apalagi mikir persaingan bisnis yang kadang mainnya di harga. Belum lagi kalo ketemu calon customer yang banyak maunya tapi gak mau banyak bayarnya. Mesti bicara baik-baik untuk nolaknya supaya mereka gak tersinggung juga. Kalau delivery lagi banyak dan nggak cukup waktunya itu terkirim hari itu, ya saya yang pergi ngirim sendiri. Beli bunga sendiri juga seringnya. Naik motor bawa bunga banyak, sampe pernah bunga saya berjatuhan saking banyaknya, tapi selalu ada orang baik di dunia ini ya, ada aja yang menolong hehehe. Kalau mendekorpun untuk saat ini saya masih ikut turun, karena selain belum banyak karyawan saya belum punya orang kepercayaan yang bisa diminta menggantikan. Kadang kerjaan kasar ya dilakuin juga, tapi ya dasarnya saya juga dari kecil udah biasa jualan kerupuk dari warung ke warung jadi sekarang pun gak pernah gengsi mau ngerjain apa aja. Kalau mau sukses memang mesti kerja keras ya :D Saya sering liat kok ada orang yang penampilannya  tapi nggak malu kerjain kerjaan yang mestinya dikerjain tukang, karena ya mungkin saat itu dia memang mesti turun tangan jika ingin hasilnya sempurna.
Dengan sedikit malu saya mesti mengaku, saya sempat kepengen berhenti. Tapi akhirnya saya nyadar lagi, kok cemen banget alasannya. Kalo setiap ketemu tantangan saya nyerah, saya gak bakal pernah naik kelas. Saya punya suami yang sangat mendukung, anak-anak yang sangat pengertian kalo mamanya kerja. Itu sebenernya modal utama kan ya?  Dukungan keluarga yang berupa pengertian. Duh pokoknya saya malu deh sempet punya pikiran untuk berhenti itu. Karena saya sudah mencoba membunuh impian saya sendiri. Mungkin yang diperlukan hanya kesabaran. Kalau memang tidak sanggup yang diperlambat sedikit speednya, jangan berhenti total. Soalnya nanti mau mulai lagi, susyaaah. Kadang hanya perlu mengendap sebentar supaya semuanya menjadi jernih kembali. Jangan ngoyo, semua ada waktunya, yang penting tetep usaha dan tersenyum. Seperti kata suami saya, "selereran". Senyum lebar rejeki lancar, hahahahah
Semoga saya semakin bertumbuh dalam hal kebijaksanaan ya, karena saya percaya kalau semua keputusan diambil berdasarkan kebijaksanaan, maka hasil akhirnya adalah kebahagiaan bagi semua.

Friday, August 10, 2012

Belajar Bersama ya Nak

Apa kabar Bodhi? Si sulung saya yang belakangan ini kok jadi makin manja ya sama mama? Bobok pengennya dipeluk mama dulu. Sebelum berangkat sekolah, walaupun sudah mandi dan rapi berganti baju, tapi masih ogah-ogahan turun dari kamar. Mesti mama jemput dulu ke kamar. Ohya Bodhi kalau mandi pagi dimandiin papanya, pokoknya sampe rapi. Mama cuma siapin aja pakaian seragamnya. Soalnya kan mama pasti udah bangun duluan, trus mesti beres-beres juga siapin sarapan. Papa yang bangun kemudian langsung mandi, setelah papa beres langsung mempersiapkan Bodhi. Bagi tugas lah ceritanya,supaya semua happy hahaha.
Kalau dari pencapaian di sekolah, saya dan papanya senang-senang aja :) Karena kami memang gak pernah masang target apa-apa, pokoknya Bodhi mesti happy di sekolah jadi otomatis pasti happy belajar. Dan Bodhi sudah memberikan hasil terbaik yang dia mampu, termasuk penilaian sebagai anak yang menyenangkan, yang siap membantu dan berbagi, have such a huge heart kata gurunya. Menurut instruksi dan peraturan, berbakat di menggambar dan punya daya ingat yang baik untuk semua hal yang sudah dipelajari. Kalau dari penilaian per mata pelajaran, mayoritas nilainya A, bahasa mandarin rata-rata B mungkin ya, karena dari 3 point dalam bahasa mandarin dia mendapat 1 nilai A, 1 nilai B dan 1 nilai C. Nilai C nya ini untuk menyebut anggota tubuh dalam bahasa mandarin :) Selebihnya nilainya A dan B. Terima kasih sayang untuk usahanya :)

Nah sekarang Bodhi sudah Kindergarten 1, TK Kecil gitu deh. Karena Bodhi usianya nanggung, tapi saya sih tidak pernah mempermasalahkan. Buat apa sih sekolah buru-buru, yang penting happy lah hehe. Sejak K1 ini Bodhi sekolah pagi, walaupun seminggu pertama sempat ikut kelas yang siang, tapi karena yang siang hanya Bodhi sendirian sementara kelas pagi ada 4 orang teman, saya pikir akan lebih baik kalau dia mulai ada teman sekelas, setelah sebelumnya di Playgroup dia hanya sendirian, tapi saat kelas mandarin dan komputer digabung dengan teman-teman lain di kelas yang lebih besar. Dalam pertimbangan saya, dia akan belajar untuk menunggu giliran, belajar berbagi, dan berkomunikasi juga menjadi lebih aktif karena anak-anak di kelas yang pagi itu 3 dari 5 anak adalah anak-anak yang berbahasa Inggris aktif. Oh ya saya memang bukan ibu yang ketat bahwa anak hanya belajar bahasa Indonesia, saya malah tidak apa-apa kalau anak-anak saya berbicara dengan banyak bahasa selama mereka menikmati bukan karena dipaksa. Contohnya, di rumah mereka berbahasa Indonesia, di sekolah mereka berbahasa Inggris, ketika bertemu kakek nenek dari pihak papa mereka boleh berbahasa Mandarin, ketika dengan ibu saya mereka saya perbolehkan diajak berbahasa Bali. Saya tidak memaksa orang lain yang harus menyesuaikan diri dengan anak-anak saya, tapi sebaliknaya saya juga tidak memaksa anak-anak untuk menyesuaikan bahasa dengan orang lain. Bingung ya? Hmm tapi kayaknya anak-anak itu sudah alamiah ya, mereka bisa menyesuaikan diri. Kadang mereka memang berbicara campur-campur jadinya. Tapi saya tetap tidak menyalahkan, soalnya kalau saya menyalahkan sama juga dengan memaksakan, kalau saya minta mereka hanya berbahasa satu yaitu bahasa Indonesia (halah kok jadi sumpah pemuda gini hahaha) ya tetap nggak enak di mereka juga kan, kalo mereka bisa ya kenapa nggak?? Kalo  mereka nggak mau ya sudah pasti mereka menolak secara alami juga. Diikutin gimana enak anaknya ajalah, saya nggak mau terlalu ikut teori ini itu, selama anak menjalaninya dengan senang dan itu tidak berbahaya, saya ikut mengalir saja.
Nah soal jam sekolah pagi ini, awalnya saya sempat khawatir karena Bodhi adalah anak yang sangat susah bangun pagi, tapi ternyata hanya dengan sekali bujukan "kalau sekolah pagi banyak temannya", Bodhi belum pernah bolos karena telat bangun :) Dia hampir selalu bersemangat untuk ke sekolah, bahkan sewaktu demam sehari seminggu yang lalu, begitu badannya enakan dia minta masuk sekolah lho. Ini yang saya harapkan dari dulu semenjak Bodhi belum sekolah, kalau dia bersekolah dengan senang bukan terpaksa :) Semoga seterusnya begitu ya Bodhi. Oh ya Bodhi kan role model Citta adiknya, kalau Bodhi semangat sekolah semoga Citta juga mencontoh yang baik seperti ini :)
Di K1 ini Bodhi sudah mulai diajak membaca buku, dan saya kaget aja dong pas iseng-iseng saya ajak dia baca-baca buku ceritanya yang didapat dari sekolah, dia bilang "Sini Ma, Bodhi yang baca in buat Mama". Oh ok, saya pikir dia hanya gegayaan, ternyata dia bacain saya satu buku dari awal sampai selesai :) Mungkin menghapal, tapi menghapal satu buku tetap bikin saya kaget hahaha. Dan dia tidak membaca cepat seperti layaknya menghapal, dia lihat dulu dua huruf pertama lalu dbaca dengan benar. Saya senang tentu saja dan merasa perlu memberi apresiasi kepada ibu guru yang sudah membuat Bodhi mampu membaca satu buku cerita. Saya tahu itulah kebahagiaan seorang guru, ketika muridnya membuat sebuah pencapaian. Maka saya email gurunya, dan tentu saja Ibu Guru senang dan bilang "It's mean a lot for me, mum".  Dan untuk minggu ini Bodhi sudah belajar tentang tema baru lagi yaitu makanan dan minuman, berarti buku ceritanya pun sudah berganti lagi dan di hari kedua saya iseng lagi minta dia membaca dan dia mampu membaca sampai selesai. Ya tentu sekolah bukan hanya tentang membaca ya, tapi kalau mau diceritakan semua ya bisa gak habis-habis, ini saya highlight saja tentang membaca karena salah satu hal yang saya anggap saya tidak akan mampu ajarkan sendiri di rumah, salah satunya adalah membaca :D Kalau berhitung, tadi pagi-pagi sebelum sekolah saya iseng aja sih nanya, kalau mama punya pesawat 5 trus yang 2 belum landing di airport, berarti di airport baru ada berapa pesawat Bodhi?? Dan setelah dihitung, dia jawab : tiga mama :D
Lalu mengenai les musik. Bodhi baru saja selesai ujian Junior Music Class 1 dengan hasil baik. Padahal itu anak ya udah bikin mamanya deg-deg an karena kalo latihan banyak gayanya. Tapi pas ujian, kok bisa dia serius dan berhasil. Yang jadi catatan, diminta berani menyanyi lebih keras. Kalau penilaian permainan keyboard, menyanyikan dan mengenali notasi, penilaiannya sudah bagus. Kalau menurut saya, soal menyanyi keras itu karena dia masih ragu, takut salah. Karena memang lyric nya itu agak rumit tidak seperti lagu anak pada umumnya. Jadi Bodhi terlalu berhati-hati. Soalnya kalau dibilang takut menyanyi keras, pas di acara kenaikan kelas di sekolah dia nyanyi You Are My Sunshine sama gurunya (Bodhi nyanyi, gurunya main gitar), suaranya keras lho. Karena dia memang sudah yakin dan lyricnya mudah bagi dia. Tapi gapapa kok nak, Bodhi sudah melakukan yang terbaik. Dan tahu nggak sih kalo Bodhi ngerasa udah bikin saya senang (dia ngerti banget perubahan air muka saya tanpa perlu mamanya banyak bicara), dia yang nyium saya lho bukan saya yang nyium dia :D Sambil bilang gini, Bodhi pinter ya ma? Mungkin saking girangnya mamanya nggak cemberut hahaha.
Dulu kalau saya dengar cerita orang-orang tentang hebohnya anak mau ujian, hebohnya bikin pe-er, saya sudah sering membatin, kalau saya nanti bagaimana ya? Orangtua yang seperti bagaimanakah saya? Apakah akan banyak menuntut? Apakah saya akan ikut panik atau santai saja? Setelah saya mengalami sekarang, saya sendiri belum bisa menilai saya ini sudah menjadi orangtua yang bagaimana. Anak saya merasa bahagia nggak dengan cara orangtuanya mendidik dia. Dan memang sepertinya terlalu dini kalau berani menilai sekarang ya. Perjalananan masih jauh, masih banyak kondisi yang bisa terjadi. Pokoknya anak belajar ya orangtua belajar juga.  Tapi setidaknya sepanjang perjalanan saya belajar dengan anak-anak, terlalu berlebihan itu nggak baik ya memang hehehe. Terlalu santai yang nggak bagus, terlalu keras ya juga nggak bagus. Jalan tengah memang paling pas, nah pe-er nya kapan kita tahu itu sudah jalan tengah terbaik? Ya itu memang nggak bisa dikasi point-point tertentu. Beda kasus beda solusi, beda waktu beda lagi solusinya. Untuk kasus yang sama, jika setahun yang lalu bisa diatasi dengan solusi A, makan untuk saat ini belum tentu bisa lagi bisa diatasi dengan solusi A. Pokoknya belajar terussss deh judulnya.