Showing posts with label cerita bodhicitta. Show all posts
Showing posts with label cerita bodhicitta. Show all posts

Friday, April 19, 2013

Berceritalah kepada kami, dan kami siap mendengarkan.





Mama, liat ma Bodhi lagi main jadi Luke Skywalker...
Mama, mau minum teh? Citta buatin teh? Pake biskuit? Ini biskuitnya, makasi sama-sama.... *sambil nyodorin gelas plastik mainannya.

Setiap dua menit, hmm mungkin setiap menit. Mama....begini, mama begitu..., mama kenapa begini..., mama....koko iseng!, mama....Citta ambil mainan Bodhi....

Disaat sedang bisa nemenin main, ya gak apa-apa, seru, lucu. Tapi pas sedang sibuk dengan kerjaan lain, ataupun sekedar ingin membaca satu berita, rasanya haiyaaaa jangan sebentar-sebentar mama, sebentar mama... kan ada papa ituuu yang bisa diajak cerita juga. Atau kalau pas papa sedang nggak ada, palingan saya menggerutu, haduuuh kasi mama baca sebentar kenapa siiih, atau mama masih ngerjain ini bentarrrr lagi ya.... jangan dikit-dikit ngajak mama ngobrol dong.

Tapi begitu belakangan ini saya sering membaca update-an status di media sosial yang sedikit-sedikit curhat, sedikit-sedikit ngomel, sedikit-sedikit meratap-ratap sebagai orang paling menderita sedunia. Mengharap komentar atau tanggapan atau setidaknya like status-nya (di-like berarti setuju kan ya dengan yang ditulis di status), saya jadi berpikir kenapa harus membagi masalahnya di media sosial? Tidak ada teman bercerita yang nyata? Setidaknya bisa di lingkup yang lebih kecil? Walaupun mungkin berceritanya lewat messanger (ya mungkin karena memang orang yang dianggap dekat dan dipercaya tidak selalu ada di samping atau bisa bertatap muka), setidaknya tidak terlalu banyak orang yang tidak berkepentingan yang tahu tentang masalah kita. Karena saya melihat, nggak jarang statusnya karena kesal dengan orang2 terdekatnya. Misal, suami, orang tua, saudara, teman dekat.

Sayapun bukan orang yang bebas dari rasa kesal, sedih. Pengen rasanya memang mengeluarkan uneg-uneg di timeline social media. Tapi ketika baru berpikir seperti itu, ada perasaan lain yang membuat saya berpikir ulang untuk menuliskannya. Bahkan ketika kesal dengan sikap customer/client, walaupun rasanya sudah ingin meracau di timeline, tapi selalu ada yang menahan. Saya juga nggak ngerti perasaan apa ya namanya itu, tapi dia menahan saya supaya berpikir ulang. Karena dia mengatakan, semua itu nggak kekal. Sekarang kamu benci, sebentar lagi kamu nggak tahu ternyata orang itu  bisa melakukan sesuatu yang malah menolong kamu. Atau sekarang kamu senaaaang sekali, ingin memuja-memuji orang itu tapi kamu nggak tahu dalam hitungan menit orang itu yang akan membuat kamu sakit hati. Apalagi mau mengomel tentang orang yang dekat dengan saya, walaupun dengan bahasa yang paling halus sekalipun, dengan kata-kata bersayap, saya sudah takut duluan dengan opini orang. Bukan...bukan pencitraan sebagai orang baik yang tidak pernah punya masalah atau tidak pernah merasa kesal, saya takut bahasa tulisan yang hanya sepotong itu menimbulkan multitafsir. Jika baik, mungkin tidak apa-apa, jika penafsiran salah, bukan lega yang saya rasakan setelah menuliskan uneg-uneg tapi malah makin memperparah masalah saya, setidaknya masalah berperang dengan pikiran saya sendiri. Walau bagaimanapun, orang itu orang yang dekat dengan saya,maka saya pasti, PASTI sedih kalau sampai ada yang berpikiran buruk apalagi sampai mengatai-ngatai orang bersangkutan hanya demi ingin membela saya atau menyenangkan hati saya yang sedang galau sampai harus menuliskan status semacam omelan, keluhan atau ratapan.

Oh ya jadi apa dong hubungannnya dengan kebawelan anak-anak saya, juga hubungannya dengan foto di baris paling atas tulisan ini?

Kenyataan yang saya lihat di social media itu, membuat saya berpikir ulang sebelum menggerutu karena waktu pribadi dan 'gaya bicara' saya seakan-akan direbut anak-anak saya. Saya berpikir kembali, kalau bukan dengan orang tuanya -mama papanya- mereka bercerita, lalu mau cerita sama siapa? Seharusnya bagus dong mereka mau berbagi dengan kami orangtuanya, kalau mereka introvert saya jadinya lebih repot lagi. Apalagi kalo introvertnya sama saya tapi mengumbar cerita di belakang, semisal di media sosial itu. Nah kalo dari mereka kecil mereka udah ngerasa saya nggak mau mendengarkan mereka, saya takut akan terbawa-bawa sampai mereka ABG dan dewasa nanti. Okelah kalau setelah dewasa mereka memang sudah saatnya dan berhak menentukan sikap, berhak untuk tidak menceritakan semua kejadian dalam hidupnya kepada kami orang tuanya, tapi setidaknya ketika mereka berbeda pendapat dengan kami atau ada yang tidak mereka setujui dari sikap kami, mereka mau membicarakannya dengan kami orangtuanya langsung. Orangtua tidak seratus persen benar, tidak sempurna juga sebagai manusia, apalagi makin tua ya biasanya kan makin cerewet (eh sekarang juga udah cerewet sih, padahal masih muda #hmmmm) Jadi, akan menyenangkan jika mereka mau mendiskusikan langsung dengan kami, tidak diam seolah semua baik-baik saja hanya demi menjaga sopan santun, atau malah ketika ada masalah langsung pergi dan tidak mau berkunjung atau melihat kami lagi (amit-amit). Atau....menuliskan kejengkelannya di timeline social media. Walaupun mungkin menuliskannya dengan halus, mengutip kata-kata dari kitab suci segala (ini biasanya untuk yang udah gede), bahkan saya pernah melihat teman saya posting status ABG yang jadi friend dia, yang memaki-maki ibunya karena tidak diberi uang sesuai yang dia minta. Haduh amit-amit, saya bisa mati berdiri kali ya :((

Nah kalau yang di foto itu, gayanya Bodhi atau Citta kalau mereka punya 'secret' yang mau diceritakan ke mama. Biasanya mereka akan bilang begini, "Mama, i have a secret..." trus deketin kuping saya dan was wes wos was wes wos (iya beneran was wes wos bisik-bisik tapi nggak jelas ngomongnya apa), nah cerita jelasnya itu diceritakan dengan volume normal, hahaha jadi bukan rahasia lagi dong ya.

Jadi pengharapan saya ke anak-anak, berarti tanggung jawab juga buat saya dan suami di saat sekarang: untuk mau menjadi pendengar, bisa memberi komentar jika memang diminta, bersedia mendampingi mereka dalam setiap peristiwa yang meraka alami. Saya percaya saat ini yang akan menentukan kejadian nanti. Harus bisa ya :)

Friday, May 25, 2012

Panic Attack

Pertengahan bulan Juni nanti kita sekeluarga BESAR akan tour ke China. Diawali dari Shanghai dan berakhir di Hongkong. Oh ya kita memang akan pergi beramai-ramai, karena sekalian mau silaturahmi dengan keluarga besar papa mertua yang ada di kota Fuzhou. Kebayang bakal seru dan rame banget. Tapi kenapa yaaaa semakin dekat waktu keberangkatan, semakin panik rasanya. Untuk itu saya memutuskan, saya nggak mau panik sendirian. Maka saya bagi-bagi saja kepanikan saya disini,semoga bisa berkurang. :D

Saya berpikir, mungkin kepanikan itu disebabkan karena:
1. Saya belum pernah travelling selama itu yaitu 19 hari. Kebayang banyaknya perbekalan yang harus dibawa apalagi dengan dua anak balita.
2. Perginya ke China, yang mana yang saya dengar toiletnya banyak yang horor. Cerita teman saya, tahun 2000 dia kesana dan kembali lagi tahun 2007, situasi nggak banyak berubah!! Jadi jangan berharap tahun 2012 ini akan ada perbaikan. Duh kok serem gitu ya. Tapi kalau Shanghai dan Hongkong sih udah maju ya katanya, jadi jangan terlalu khawatir. Beijing juga lumayan. Tapi suami cukup menghibur, kan sudah menyelenggarakan Olimpiade, pasti banyak perubahan. Jangan terlalu dipikirkan katanya.
3. Itinerary nya padat banget. Rata-rata hampir setiap hari kita berpindah hotel, hanya di Beijing, Fuzhou dan Hongkong yang menetap 3hari2malam. Selebihnya nomaden. Entah berpindah dengan bus, kereta super cepat, pesawat terbang, ferry bahkan cable car!! Wew, komplit amat nanti moda transportasi yang kita naiki. Doa saya: semoga semua nggak kecapekan dan jatuh sakit.
4. Setelah dianalisa lebih dalam (cieeh apa coba) yang bikin saya panik adalah soal anak...anak... anak...anak..........pokoknya takut nanti mereka nggak betah karena disana akan banyak kunjungan yang bukan khusus anak-anak (selain disneyland di Hongkong nanti), takut mereka nggak cocok makanannya, takut mereka nanti susah ke toilet umum, kasihan citta harus pakai diaper sepanjang hari karena selama ini nggak pernah seperti itu. Haisshhh ini kan mau liburan, kenapa saya jadi banyak takutnya begini sih :(
5. Kalau berpindah hotel terus, kapan saya NYUCI BAJU nya??? Aneh memang kekhawatiran ini. Tapi masuk akal kan? Kalau mengandalkan jasa laundry hotel tentu MAHAL. Cuci sendiri sih bisa, tapi kapan bisa mengeringkan? Rasanya tidak akan cukup waktu. Mungkin jemur di jendela bus??? Hahaha -yuk mari tertawa dulu-

Akhirnya daripada saya mumet nggak jelas dan semakin hari semakin panik, sayapun memutuskan menyusun daftar barang bawaan nanti. Dan mulai mencicil pernak pernik yang bisa dimasukkan koper dulu sebelum memasukkan pakaian. Duh soal pakaian ini kalo travelling dengan anak-anak, pasti deh dikali dua. Bawa dua anak berarti empat kali lipat bawaanya. Semoga aja sih nggak sampe segitunya ya. Jadi saya membagi jenis bawaan sebagai berikut:
Yang bisa dipakai berulang kali dan yang mesti sekali-pakai-buang. Kalau ada yang bisa sekali-pakai- buang, rasanya lebih logis untuk dibawa supaya mengurangi jumlah cucian (lagi-lagi soal cucian, si papa pasti ketawa kalo baca ini) dan semakin hari semakin ringan bawaannya, semakin lowong kopernya, semakin cukup ruang untuk diisi barang belanjaan lain #eh.
Yang sekali pakai sudah saya list diantaranya:
- shampoo bawa yang sachet, kecuali untuk anak-anak bawa yang kemasan kecil. Kalau shampoo nggak berani mengandalkan yang disediakan hotel, lebih sering nggak cocoknya.
- sabun mandi bawa yang kemasan kecil aja, toh di hotel biasanya disediakan sabun mandi dan selama ini masih cocok-cocok aja dengan sabun mandi dari hotel.
- detergent bawa yanga bubuk aja, kemasan sachet. Pewangi juga bawa yang sachet aja.
- Diapers untuk Citta. Bawa secukupnya aja, mungkin untuk 3 hari aja, begitu sempat nanti beli disana aja. Kalo diapers kan makan tempat ya di koper. Mudah-mudahan cukup mudah mencari merk yang biasa dipakai Citta disana.
- Breastpad untuk mama yang masih menyusui. Bawa 25 pcs kayaknya nih. Tapi nggak apa-apa karena nggak makan tempat, tipis dan kecil saja.
- Pembalut untuk mama. Karena kayaknya bakalan dapet deh disana. Hmm para anggota rombongan wanita kayaknya bakalan semua mengalami, secara disana hampir 3 minggu. Hihi lucu juga ya :D
- Alas duduk toilet. Mungkin bawa 20-30 lembar cukup yah dan mari berdoa semoga proses output kita selalu lancar di pagi hari jadi bisa dilakukan di hotel saja :D
- CD kertas. Ini perlu banget saat kedatangan si M. Repot kan kalo mesti nyuci-nyuci seandainya bocor.
- Sabun cuci tangan. Katanya mesti bawa yang banyaaak. termasuk juga sabun tangan yang nggak perlu dibilas.
- Tissue, baik yang basah dan yang kering. Bawa secukupnya, bisa beli disana karena nggak mesti merk tertentu.

Nah kalau yang bisa dipakai berulang itu sepertinya saya harus bawa:
- peralatan makan untuk anak-anak. Sendok garpu untuk saya! Hahaha iya nih, kalo disuruh makan nasi pakai sumpit sementara nasinya yang udah kena kuah gitu, alamat saya bakalan paling belakang selesai makannya.
- Topi, sunglasses, UV lotion
- Slabber/bib. Kalau jalan seharian, dan bajunya anak-anak kena noda berarti gak bisa langsung cuci. Bisa-bisa nodanya menetap di pakaian.
- Jacket. Walaupun katanya bulan Juni itu musim panas di China, tapi nanti akan ada trip naik pesawat di malam hari (pasti dingin AC nya), naik ferry (pasti berangin). Nah anak-anak terutama mesti pake jacket.
- Handuk mandi anak-anak. Kalau papa mama, pakai yang disediakan hotel aja.
- Pisau lipat. Untuk kupas-kupas buah. Paling ampuh sebagai anti masuk angin dan pengganjal perut kalau-kalau jadwal makan terganggu. Nggak mau bawa biskuit yang kering-kering, biasanya malah jadi susah pup kalo travelling kebanyakan makan yang kering-kering gitu. Semoga semua sehat selama jalan-jalan nanti.

Kalau untuk urusan pakaian (yang dalam maupun luar) belum memutuskan akan membawa berapa pasang. Masih dianalisa dulu jadwal jalan-jalannya. Sekarang sih sudah saya buatkan di worksheet, supaya lebih mudah dibaca dan dipelajari, tsaaah. Nanti mudah-mudahan saya rajin untuk update blog soal bawaan pakaian ini.

Ternyata memang bisa jadi theraphy, membuat sedikit lebih tenang setelah ditulis. Selanjutnya, belanjaaa! Oh ya saya harus beli topi. Iyaaa saya memang suka sekali beli topi. Jad ini alasan lagi bisa beli topi, mau beli yang lebar tapi flexible masuk tas, Kalau topi lebar yang saya punya sekarang, bahannya kaku jadi kalau masuk tas, makan tempat gitu deh. Alasan logis kan? :P

Monday, May 7, 2012

Bagaimana rasanya?

Sering ngerasa jadi ibu paling bawel sedunia? Gara-gara serasa ngomong ama tembok, dikasi tahu bolak-balik kok belum juga dilakukan. Saya sering ngerasa begitu, walaupun banyak yang bilang anak saya sih masih 'normal' nggak bandel-bandel amat. Tapi namanya kalo lagi pengen buru-buru, inginnya begitu ngomong langsung dijalankan. Tapi saya juga sering lupa, saya ngomong sama anak kecil bukan robot kecil.

Tapi begitu mereka melakukan tanpa disuruh, padahal rasanya selama ini kok rasanya gak didengerin. Contohnya:
Bodhi mau berangkat sekolah, dan bersiap keluar kamar.
Citta langsung celingak celinguk dengan gelagat mau ngikut. Saya bilang,"Citta mau ikut turun?"
Citta jawab, "Ikuk".
Citta bangun dari duduknya, bergegas sambil membawa bukunya.
Saya pikir dia akan langsung menuju pintu keluar, tapi ternyata dia berbelok ke arah rak buku dan meletakkan bukunya ke tempat semula!!
Kalau sudah begini, bagaimana rasanya? Speechless :)

Sering juga ngerasa nggak enak hati saat anak lupa mengucapkan terima kasih ketika menerima pemberian seseorang, sementara kalau dengan mama papa di rumah nggak pernah lupa.
Tapi ketika suatu pagi saya sedang masak menyiapkan sarapan sekaligus bekal makan siang Bodhi, dan tiba-tiba Bodhi muncul di belakang saya lalu bertanya: "Mama lagi ngapain?"
Saya jawab,"masak buat sarapan dan bekal sekolah Bodhi."
Trus dia membalas,"Owwwh thank you Ma, sudah masakin buat Bodhi." Trus peluk saya dari belakang. Kalau sudah begitu, bagaimana rasanya??? Speechless lagi!! Apalagi dia pake owwhhh dengan penuh perasaan gitu nyebutnya :)

Lalu bicara mengenai mengekspresikan perasaan. Saya dan papa nya, menurut sahibulhikayat para orang tua kami masing-masing, adalah anak-anak pemalu. Boro-boro mengexpresikan perasaan di depan orang lain, ketemu orang lain aja udah malu kok. Nah berdasarkan sejarah yang tidak begitu menyenangkan itu, saya seringkali dibuat terkejut oleh sikap anak-anak saya (mungkin tingkah anak jaman sekarang hampir kebanyakan begitu ya). Kalau mereka melihat sesuatu yang menyenangkan, mereka tak segan berseru "Woooow...great!!" Itu kalau bodhi, kalau Citta lagi: "Woooooow..... "dengan mulut terbuka lebar trus 2 tangan menopang dagu membentuk huruf V. Hmmmm tahu kan gaya Chibi? :D
Atau....kalau dibuatkan sesuatu atau diberi sesuatu berupa makanan, Bodhi sering bilang (kalau dia suka makanannya)."Oh thank you ma! It's sooo delicious". Padahal belum juga dimakan :D
Kalau CItta? Tetep "Wooooow..." trus bilang "enak...enak..." sambil ngangguk-ngangguk.
Nah kalau sudah begitu, bagaimana rasanya?? Wooooow pengen uwel-uwel rambut mereka...!!!

Friday, April 27, 2012

BodhiCitta featured @The Urban Mama

Iseng-iseng submit cerita tentang Bodhi dan Citta ke The Urban Mama dan dimuat hari Kamis yang lalu. Pengen belajar nulis yang lebih rapi dan baik. Makanya coba-coba submit ke forum yang ada editornya, mungkin selanjutnya mesti lebih rajin lagi nulis. Semoga :D


Saturday, April 14, 2012

Perayaan Cinta


Sebagaimana sering diistilahkan bahwa anak adalah buah cinta dari kedua orang tuanya, maka kami sebagai orangtua mau anak-anak kami tumbuh dalam kehangatan cinta dan kasih sayang. Keinginan yang wajar dari setiap orang tua ya? Oleh karena itu sejak saat kelahiran mereka hingga sekarang, kami berusaha merayakan cinta kami terhadap mereka yang salah satunya adalah memperingati setiap 'pencapaian usia' dengan adat istiadat dan budaya dari kami orangtuanya. Dan kebetulan kami dari dua latar belakang budaya berbeda, saya dari Bali sementara papanya Tionghoa. Dua budaya yang awalnya bagi kami sendiri adalah budaya yang sangat berbeda namun semakin kesini semakin kami menemukan bahwa banyak persamaannya.

Dari semenjak kelahirannya, Bodhi dan Citta, sudah kami rayakan secara Bali dan Tionghoa. Ari-ari mereka kami upacarai dengan adat Bali dan ternyata kami menemukan bahwa dalam adat tionghoa juga ada detail yang mirip seperti misalnya membekali dengan benda-benda tertentu sebagai simbol harapan dan doa orangtua. Ketika berusia 30 hari sesuai kalender Cina, maka kami merayakannya dengan telur merah dan gunting rambut sesuai tradisi Cina. Di saat itu, mertua dan keluarga dari pihak suami datang untuk membantu. Tapi upacara adat Bali saat usia 42 hari kami lewatkan, karena kami pikir sudah dijalankan tradisi Cina di usia 30 hari. Lalu saat usia 3 bulan dan 6 bulan secara kalender Bali, kami rayakan dengan upacara adat Bali. Dan untuk bagian ini, ibu saya yang kebagian seksi repotnya. Kemudian saat mereka mencapai usia setahun, berbarengan dengan ulang tahun pertamanya, kami tetap tambahkan upacara tradisi Cina yaitu anak diberikan pilihan barang-barang seperti misalnya dompet/kertas angpaw, buku, kalkulator, stetoskop (kalau yang ingin anaknya kelak jadi dokter), bahkan bisa jarum dan benang jahit. Mungkin harapannya nanti besar anaknya jadi designer pakaian ya :)

Bagi kami, semua itu sangat menyenangkan. Selain menjaga tradisi kami juga mengambil moment itu untuk menegaskan harapan kami kepada anak-anak, harapan umumnya orang tua yaitu semoga mereka selalu berbahagia. Disamping itu juga kami ingin membahagiakan orang tua kami, dengan menjalankan tradisi yang mereka dulunya juga jalankan untuk kami anak-anaknya. Terlihat dari bagaimana mereka para kakek dan nenek begitu bersemangat menyiapkan upacara untuk para cucu tersayang.

Kalau ada yang beranggapan menjalankan tradisi adalah pemborosan, tapi bagi kami tidak sama sekali. Karena kami selalu menjalankannya dengan sederhana, sesuai kemampuan kami. Tidak perlu mengundang banyak orang, justru disaat seperti itu kami hanya ingin merayakannya dengan orang-orang terdekat. Karena bukan hebohnya acara yang kami inginkan, kami justru ingin yang santai kekeluargaan. Bahkan jika ada yang beranggapan itu hanya takhayul, kami juga tidak peduli. Karena dasar kami menjalankannya, bukan semata keinginan heroik sebagai pelestari budaya dan adat istiadat, tapi tujuan kami seperti yang disebutkan di awal semata ingin merayakan cinta. Cinta kami kepada anak-anak, juga cinta kami kepada orang tua kami.
Citta gunting rambut saat umur sebulan. Ini sesuai tradisi Cina, walaupun saat itu yang menggunting rambut Citta adalah seorang Bikhu Buddhist yang khusus menyempatkan diri datang ke rumah kami di pagi buta. Berkah bagi Citta dan kemi sekeluarga :)

Upacara 3 bulanan secara adat Bali, di saat ini pertama kali Citta secara resmi boleh menginjak tanah.

Ulang tahun pertama dibarengi dengan tradisi memilih barang.
Saat itu Citta memilih telur dan jarum+benang jahit.
Kata mertua, anaknya doyan makan dan calon designer ^_*
Doyan makannya hmmm masih tetep agak memilih sih, maunya yang tasty.
Soal calon designer, hmmmm kita lihat saja nanti ya.
Just for fun :D

Note:
Kalau fotonya kebanyakan untuk acara Citta, itu karena saya males ngubek file-file lama untuk acara Bodhi :) *Bukan mama pilih kasih ya koko....
Foto paling atas,Bodhi dan Citta, diambil saat upacara ulang-6-bulan Citta. Berhubung upacara 6 bulan yang pertama kami sedang tidak di Bali karena berbarengan dengan saat kami merayakan tahun baru Imlek di Palembang, jadi baru diadakan Maret 2012 yang lalu. Oh ya kalau sesuai kalender Bali itu peringatan hari kelahiran bukan setahun sekali tapi 6 bulan sekali, karena dalam kalender Bali hanya terdiri dari 210 hari.
Jadi begitulah, karena kami tidak secara ketat juga mesti plek sama persis, tapi lebih ke sempatnya kami, semampunya kami, jadi tidak ada beban tidak ada paksaan. Ya karena itu tadi, yang atas nama cinta tak boleh ada kata memaksa :)

Thursday, November 3, 2011

Oh dear... Jatuh ya...

Si koko nih lagi suka ngomong "oh dear..." plus ekspresi "turut prihatin". Kayaknya sih dapet dari film-film tontonannya.

Misalnya dia pengen sesuatu tapi kita nggak kasi, maka dia akan bilang "oh dear..."
Kalau ada adegan sedih atau marah di tv, dan dia pengen tahu kenapa sampai sedih/marah maka dia akan nanya dan setelah kita kasi penjelasannya, dia akan jawab: "oh dear..."

Nah tadi malam saya yang giliran nanya: "Bodhi...mama cantik kan?"
dan dijawab Bodhi: "oh dear...." sambil cengar-cengir.
@*&^$$$$&^#$%

Kalo Citta lain lagi, lagi suka ngomong JATUH. ngga tahu deh lagi jatuh cinta mungkin ya asal jangan jatuh sakit aja hehehe. Kalau ada sesuatu yang terjatuh dia paling cepet nyaut: "jatuuuuhhhh". Tapi kalo dia melakukan kesalahan dan dia tahu itu salah dia juga bilang "jatuuuuh..." tapi expresinya beda, expresi tak-bersalah-supaya-nggak-kena-marah. Masih misteri, kenapa dia memilih kata jatuh!

Wednesday, August 31, 2011

Bahagiamu Bahagiaku

Anak-anakku, seandainya suatu saat nanti

kalian mampu berbahasa asing dengan fasih
mama dan papa bangga
Namun ketika kalian selalu berkata mengenai kebaikan
mama dan papa bahagia

Saat kalian mampu memainkan alat musik sehingga terdengar harmonis
mama dan papa bangga
Namun saat kalian mampu menjalani kehidupan dengan harmonis dan bertenggang rasa
mama dan papa bahagia

Sewaktu kalian sanggup jalan-jalan ke seluruh penjuru dunia
mama dan papa bangga
Namun sewaktu kalian sanggup menyebarkan perdamaian dan cinta kasih ke seluruh penjuru dunia
mama dan papa bahagia

Dikala kalian mampu meraih cita-cita tertinggi
mama dan papa bangga
Namun dikala kalian selalu bahagia
itulah SURGA bagi kami, orang tuamu.

Anak-anakku,
tak pernah ada yang terlalu berlebihan bagi sebuah harapan
tak pernah ada yang ketinggian untuk sebuah cita-cita
Tunjuk bintang paling terang di langit yang kamu suka, nobatkan dia sebagai asa-mu
Tekadkan untuk meraihnya suatu saat nanti
Berusahalah, belajarlah, berkaryalah sebagai prosesnya
Tapi ingatlah nak,
jadikan proses itu sumber kebahagiaanmu setiap saat.

Friday, August 26, 2011

Ke Luar Negeri Untuk Makin Mencintai Indonesia

Hahaha kenapa ya saya nulis judulnya seperti itu? Mau cinta negeri sendiri kok sebegitu repotnya. Bukankah memang banyak cara untuk memperbaharui cinta? cieeeh. Seperti halnya ada bulan madu kedua ketiga dan seterusnya. Terkadang kita harus keluar dari cangkang untuk mampu melihat diri secara utuh. Sebelum protes lebih lanjut dan saya semakin banyak mengutip kata-kata bijak orang lain, begini ceritanya....dan ada hubungannya dengan jalan-jalan kami sekeluarga ke Singapura awal agustus ini. Liburan singkat, hanya 4 hari tapi cukup membangkitkan cinta tanah air saya dan ingin juga saya tularkan pada anak-anak saya.
Gara-garanya anak-anak dibagikan bendera singapura pas naik Singapore Flyer, karena kebetulan disana juga suananya menjelang ulang tahun negara Singapura. Mereka tentu girang banget, terutama Bodhi yang sudah tahu bendera tapi belum pernah sekalipun memegangnya. Ya salahkan saya yang belum pernah memberikannya bendera setiap agustusan :) Kalau Citta senang karena bendera kan bisa dia goyang-goyang dan berkibar-kibarlah sang bendera, sesuatu yang pasti disukai anak kecil bukan? Dan benderanya itu kualitasnya lumayan, dari kain, bertangkai plastik tebal. Bukan dari bahan kertas minyak seperti yang umumnya buat mainan anak-anak Indonesia hehehe. Hmmm dari situ saya melihat, pemerintah Singapura begitu memperhatikan cara-cara untuk mengenalkan tanah air kepada generasi muda bangsanya. Minimal dari kecil sudah tahu benderanya warna apa kan. Dan kualitas benderanya itu lho, sampe sekarang juga masih bagus dan masih jadi salah satu mainan anak-anak di rumah. Saya jadi membandingkan bendera kertas minyak yang dibagikan di sekolah Bodhi yang sampai di rumah juga udah lecek kemana-mana dan tangkainya udah protol lepas. Aih, saya tidak bermaksud untuk terus membanding-bandingkan Indonesia dan Singapura, apalagi membandingkan kebersihannya,dimana halte busnya aja iseng saya colek-colek dan hampir semua bagian nya tidak berdebu. Nggak tahu ya kalo di atapnya, nggak nyampe ke atap soalnya nyoleknya. Dan saya lebih malu hati kepada diri sendiri, sampai hampir 4 tahun usianya Bodhi tidak tahu kalau dia tinggal di negara Indonesia, dia hanya tahu bahwa dia tinggal di bumi dan bukan di bulan. Dan saya tidak mau menyalahkan pemerintah yang tidak memperhatikan hal-hal kecil seperti ini, tapi sayalah yang salah. Segala sesuatu berawal dari rumah bukan? Dan boleh dibilang salah satu hasil liburan kami kemarin, Bodhi sudah tahu jika ditanya dia itu anak Indonesia hahaha. Karena saya cerewet menanyainya terus tinggal di negara mana? Awalnya sih dia masih sambung-sambung "Indonesia Singapore Flyer". Tapi lama-lama udah dibilangnya Indonesia aja titik hehe. Nggak tahu kenapa dia selalu gabungin sama Singapore Flyer, jangan-jangan bendera itu memang berkesan banget buat dia juga ya. Atau karena selama di penerbangan dia denger terus kalimat "...Indonesia Air Asia..." nah karena ke Singapura jadi dia iseng aja gitu gabung-gabungin hihi. Entahlah, biarkan itu menjadi misteri deh. Trus sepulang dari liburan, saya jadi rajin aja gitu nyanyi-nyanyi lagu perjuangan, padahal sebelumnya gak pernah lho saya nyanyi semacam garuda pancasila, indonesia tanah airku, halo-halo bandung dan Indonesia raya. Jadinya Bodhi cukup terheran-heran kalo ada ya lagu-lagi seperti itu haha sebelumnya ya paling dia tahunya twinkle-twinkle, tik tik bunyi hujan dan theme song Thomas tentu saja :D


Memang bener ya, terkadang cukup mahal harga sebuah pelajaran. Gimana gak mahal coba, berapa juta itu dikeluarkan hanya untuk mengingatkan mamanya kalau anaknya belum ngeh dia tinggal di negara mana. Tapi daripada tidak ada hasil sama sekali studi bandingnya eh liburannya, selain belanja souvenir. Yaaaa kami memang tidak shopping kesana. Kan ke Singapura tidak harus shopping ya, apalagi bekal pas-pasan :D

Mungkin banyak yang menyergah, ah kalau mengajarkan anak cinta Indonesia kenapa harus ke luar negeri. Justru harus jalan-jalannya di dalam negeri dong. Nah sekali lagi saya kasih tahu nih ya...atau mau dikasih tempe juga?? hihi, seringkali kami melakukan sesuatu karena memang kami ingin melakukannya dan terkadang tanpa tujuan tertentu semisal dalam hal ini ingin menanamkan cinta tanah air. Ah itu awalnya terlalu tinggi buat saya untuk dikenalkan kepada anak saat ini. Saya memang ingin saja kesana, ingin mengenalkan suasana berbeda kepada anak-anak, suasana yang tidak macet serba teratur dan serba dipikirkan konsepnya. Terlalu dini??? Ini sih relatif ya. Mumpung untuk saat ini semua faktor mendukung, maksudnya ada penerbangan yang cukup murah, regulasi bebas fiskal sudah berlaku juga masalah cuaca yang tidak berbeda dengan Bali. Bayangkan kalau saya jadinya pergi ke Australia yang sedang musim dingin sekarang, berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk biaya fashion saja? Bisa-bisa disana kami hanya merebus mie instant untuk makan karena bekal sudah habis untuk beli baju-baju tebal :D
Jadi sekarang jika ditanya Bodhi tinggal di negara mana? Dia jawab Indonesiiiiiyaaaa. Kalau ditanya, Bodhi bangga jadi anak Indonesia? Dia sih jawab iya hihihi padahal saya yakin dia sih belum tahu apa makna bangga. Mungkin saja dia hanya menjawab iya untuk menyenangkan hati saya. Tapi itu pelan-pelan saja lah, supaya kata bangga nya bukan hanya di mulut saja nantinya, biar bangganya itu menjelma menjadi rasa tanggung jawab untuk menjadikan Indonesia negara yang lebih baik, yaaa setidaknya nanti dia berbuat sesuatu yang bisa membuat Indonesia bangga dan pasti berbanding lurus dengan kebanggaan yang dirasakan untuk dirinya (maaf ini memang harapan lebay setiap ibu ya setidaknya ibu itu adalah saya). Dan nanti besar saya berharapnya dia tidak hanya pintar membanding-bandingkan apalagi mencela negaranya terus menerus. Tapi setidaknya dia tahu bagaimana caranya untuk membuat dirinya sendiri bahagia tinggal di negara ini. Eh dari tadi yang disebut-sebut Bodhi, ini semua juga berlaku buat Citta lho ya... dan ini jadi pelajaran buat saya untuk mengenalkan kepada Citta bahwa dia tinggal di negara Indonesia, menghirup udara Indonesia, tempatnya dilahirkan. Urusan nanti dia tinggal di negara lain setidaknya untuk saat ini ya dia tinggalnya di Indonesia kan.
Saya tidak ingin mengakhiri catatan saya kali ini dengan harapan-harapan yang terkesan patriotis cenderung lebay. Kesimpulan saya cuma satu, dimanapun anak-anak saya tinggal mereka bisa membahagiakan dirinya sendiri, disini senang disana senang dimana-mana hatinya senang, Seperti itulah kira-kira. Oh ya satu lagi, jangan hanya bisa jadi orang yang hanya pedas mengkritik tapi tak bisa menyodorkan air segar penawar kepedasan-kepedasan yang dirasakan (efek makan rujak mangga kalo ini sih bukan gara-gara pulang liburan).

Sunday, July 31, 2011

ada baby giant mengacau kota

Anak kecil bermain peran, memang hal biasa. Dan Bodhi sedang seru-seru nya di fase ini. Hari ini, dia main kota-kota an pake city mat dia. Tiba-tiba Bodhi teriak, "mama.....ada giant dedek, hellppp maaa...". Trus dia teriak-teriak, no..no...baby giant baby giant. Trus pas saya liat di kamarnya, ternyata Citta sedang beraksi mengacak-acak mainan bodhi dan memunguti mainannya. Huahahaha jadi keinget film robot2an, yang musuhnya dateng mengacau kota :))
Trus setelah si baby giant diangkat mama, Bodhi dengan serius bilang gini ke mainannya: "Henry, are you ok? Emily, are you ok?..." qiqiqiqiqi lucunya anak-anakku.
ehm, iya sih kalo lagi begitu keliatan lucu, padahal barusan aja saya yang senewen karena dedek mengacak-ngacak peralatan masak di lemari :P

Monday, May 30, 2011

Gimana kalo lebih dari 2??

Baruuu juga 2 anak, gimana kalo 3...4...dst...???
Walaupun nggak ada rencana produksi lebih dari 2, soalnya baru ngebayangin aja rambut saya langsung siap grak tegak berdiri.
Kalo soal riweuh, pegel dan jadi kutu loncat serta pantat jarang nempel lama-lama di kursi, itu sudah cerita lumrah dan wajar barangkali untuk ibu-ibu tanpa bantuan pengasuh. Saya masih bagus ada si mbak yang bantu beres-beres rumah, plus suami berkantor di depan rumah. Yang kalo kondisi darurat, bisa tinggal panggil nyebrang halaman doang. Lha kalo yang bener-bener sendirian dari pagi sampe sore (bahkan malam), deeuuuh kebayang rempongnya ya. Makanya saya acungin semua jempol saya deh buat mereka itu.
Nah kalo saya, kadang-kadang saking hebohnya bisa salah-salah makein handuk baju celana, nyisirin rambut, nyuapin makan, manggil nama juga bisa salah. Sering kejadian Bodhi saya pake-in baju citta, nyadarnya kalo bodhi gelagapan karena kerah kaosnya gak muat di kepala dia. Tapi untung Bodhi gak sampe pingsan saya udah nyadar, dan biasanya Bodhi bilang "haaahaaahaaa mama salah...". Atau sering juga handuk bodhi mau saya pake buat ngelap citta, dan sering Bodhi yang teriak maaa...salah...itu kan handuk Bodhi!!! Dan diakhiri dengan ketawa Bodhi (huuu mama maluuuu). Nyuapin makan juga gitu, saya sering banget salah mulut :))
Naaah kalo manggil nama yang salah juga sering. "kokoooo jangaaan...". Hasilnya Bodhi kaget dan bingung, padahal mama maksudnya ngelarang Citta manjatin tangga huehehe maap Bodhi...
Memang sulit ya selalu sadar dalam setiap kondisi, tapi saya terus berlatih kok. Nah, ngurusin anak-anak jadi media berlatih juga :P

Sunday, May 22, 2011

selaluuuu begini hasilnya



Apaan siiih? Iya, selalu aja begini hasil fotonya kalo foto bertiga sama anak-anak. Bodhi sibuk bergaya aneh-aneh, Citta sibuk ngeliatin kokonya, dan akhirnya hanya mama yang terlihat fokus ke kamera. Hmmmmmm



Thursday, March 10, 2011

it's a magic....

Setiap hal yang mereka lakukan, setiap kata yang mereka ucapkan, bagi saya adalah sebuah keajaiban :)

Tadi pagi Bodhi ninggalin sarapannya di meja. Trus saya bilang: "Bodhi,kok havermutnya nggak dihabisin. AYo dong dihabisin...." Eh dia jawab: "sebentar ma, Bodhi lagi baca buku". Hmmm emang iya sih dia lagi buka-buka buku baru nya :D

Waktu mama pura-pura pingsan karena nyium dede citta (saking enaknya nyium,sampe pingsan coba??? hahaha). Dengan pura-pura (juga) panik, Bodhi bilang "are you ok ma?? are you ok??" sambil guncang-guncang badan saya. Hahaha seru ya berakting.

Saya berusaha membiasakan Bodhi untuk merapikan mainan sendiri, kalo saya pengen buru-buru biasanya saya menawarkan bantuan. "Ayo Bodhi dirapiin mainannya, nanti mama bantu". Sekali waktu, mungkin dia malas dia panggil saya dan bilang "Ma, boleh mama bantuin Bodhi rapiin mainan?" hahaha itu saya nggak nyuruh dia ngerapiin mainan lho,tapi mungkin dia juga ribet liat mainannya berantakan. Maunya saya sih nggak dibantuin,tapi kok denger permintaan tolongnya hmmmm jadi gak tega juga.

Bodhi sampe sekarang belum pernah cemburu sama adiknya, malah kalo denger adiknya nangis dan kebetulan saya lagi main atau peluk-pelukan sama dia, Bodhi selalu ngomong gini "Ma, dede citta nangis ma, minya nyusu dedeknya ma". Trus dia langsung lepas pelukannya atau asyik main sendiri. Duh malah jadi gak tega ninggalinnya. Atau kalo adiknya nangis,sementara saya sedang mandiin dia, Bodhi biasanya ngomong "sebentar dek, mama masih mandiin koko dulu". Bodhi juga udah bisa dititipin adiknya kalo saya lagi pipis atau ngapain lah yang nggak lama-lama. Saya biasa bilang,"Koko jagain dedek bentar ya, mama mau pipis.Hati-hati ya jaga dedeknya jangan sampe jatuh". Tapi saya sih pasti udah jaga2 juga supaya citta jangan sampe jatuh (lagi). Hehehe iya dia pernah jatuh tuh,walaupun gak tinggi, itu karena saya teledor juga saya pikir dia belum bisa pindah tempat, ternyata dia udah bisa berguling-guling. Biasanya Citta juga anteng kalo dijagain kokonya,soalnya citta itu sukaaa banget ngeliat gerak gerik kakaknya, dia bakal ketawa ngakak-ngakak kalo liat kakaknya beraksi.

Kosa kata bahasa inggris Bodhi juga sering bikin saya kaget. Dia kadang udah fasih ngomong satu kalimat. Dan sering mengeluarkan kata-kata baru yang dia mungkin dapat dari TV atau game di komputer. Dia juga udah ngerti membedakan, mana stair mana ladder misalnya. Kapan harus bilang angry kapan bilang upset. Bukannya saya bermaksud bangga anak saya berbahasa inggris, karena saya sendiri pada dasarnya selalu mengajak dia berbahasa indonesia, tapi kebalikannya malah dia yang mengawali berbahasa inggris dulu dan kadang bikin saya agak kaget juga, kok dia bisa ya??? Sekarang saya malah ngajarin dia bahasa bali, karena bagaimanapun Bodhi tumbuh di sini, di Bali. Dan kalimat pertama yang dia bisa: Mama jegeg bulan. Yang artinya mama cantik sekali, hahahaha

Hari ini dia tiba-tiba bertanya: mama takut sama laba2? nggak...jawab saya. mama takut sama bee? nggak juga....kata saya. Mama takut apa? saya jawab, mama takut kalau Bodhi sakit, mama takut kalau Bodhi sedih. Tahu nggak reaksinya apa: HAHAHAHAHA ketawa kenceng banget, halaaaaah maksudnya apa siih?

Bodhi suka banget niru suara robot, kalau dimintai tolong. Bodhi tolong dong ambilin mama tissue. Dia bakal jawab IYA MAMA, pake suara robot tentunya. Bodhi jangan main dekat tangga ya... IYA MAMA. Trus suka jail juga kalo ditanya, nggak keluar suara iya atau nggak. tapi bakal ngangguk atau geleng sambil bilang ting ting.

Oh iya Bodhi itu kadang susah juga dikasi tahu atau disuruh melakukan sesuatu. Misalnya diajak menggambar, belum tentu mau tuh. Tapi sewaktu-waktu, tiba2 aja dia nyodorin drawing board dia dan nunjukin sesuatu yang memang bener2 mirip sama yang dia bilang. Dia pernah nyodorin papan gambarnya dan bilang "ma, ini bridge dan island ma.." eeehhh beneran lho dia gambar pulau dan ada jembatan yang menghubungkan pulau2 itu.

Nah kalau Citta, sudah mulai heboh dengan suara-suara lucunya dan gerakan menirunya. Dia bisa joged heboh lho kalo denger lagu smash hahaha. Dan sepertinya dia lebih berminat ke suara musik dibanding Bodhi seumuran citta sekarang. Nggak bisa denger musik,langsung aja joged. Denger tambur barongsai aja joged :) Di kelas musik Bodhi juga gitu, yang lebih semangat ngeliat gerak-gerik guru musiknya kok Citta ya hehehe tapi apa mungkin anak cewek lebih mudah diarahkan dengan musik dan gerakan ya. Soalnya kalo diperhatiin di kelas Bodhi, anak2 ceweknya memang lebih antusias ngikutin gerakan gurunya, sementara yang cowok2 malah sibuk nyari kabel lah, berusaha nyalain electone lah, congkel2 tuts keyboard lah hahaha.
Trus hari ini Citta niru suara dan gaya koko nya bersin lho, hatsyi hatsi sambil angguk-angguk :)) Bodhi malah ketawa seneng gaya bersinnya ditiru trus pura2 bersin terus deh hahaha

Memang benar ya, sekecil apapun, sesederhana apapun, jika dilakukan oleh anak kecil apalagi anak kita sendiri,rasanya....it's a magic :)