Friday, August 10, 2012

Belajar Bersama ya Nak

Apa kabar Bodhi? Si sulung saya yang belakangan ini kok jadi makin manja ya sama mama? Bobok pengennya dipeluk mama dulu. Sebelum berangkat sekolah, walaupun sudah mandi dan rapi berganti baju, tapi masih ogah-ogahan turun dari kamar. Mesti mama jemput dulu ke kamar. Ohya Bodhi kalau mandi pagi dimandiin papanya, pokoknya sampe rapi. Mama cuma siapin aja pakaian seragamnya. Soalnya kan mama pasti udah bangun duluan, trus mesti beres-beres juga siapin sarapan. Papa yang bangun kemudian langsung mandi, setelah papa beres langsung mempersiapkan Bodhi. Bagi tugas lah ceritanya,supaya semua happy hahaha.
Kalau dari pencapaian di sekolah, saya dan papanya senang-senang aja :) Karena kami memang gak pernah masang target apa-apa, pokoknya Bodhi mesti happy di sekolah jadi otomatis pasti happy belajar. Dan Bodhi sudah memberikan hasil terbaik yang dia mampu, termasuk penilaian sebagai anak yang menyenangkan, yang siap membantu dan berbagi, have such a huge heart kata gurunya. Menurut instruksi dan peraturan, berbakat di menggambar dan punya daya ingat yang baik untuk semua hal yang sudah dipelajari. Kalau dari penilaian per mata pelajaran, mayoritas nilainya A, bahasa mandarin rata-rata B mungkin ya, karena dari 3 point dalam bahasa mandarin dia mendapat 1 nilai A, 1 nilai B dan 1 nilai C. Nilai C nya ini untuk menyebut anggota tubuh dalam bahasa mandarin :) Selebihnya nilainya A dan B. Terima kasih sayang untuk usahanya :)

Nah sekarang Bodhi sudah Kindergarten 1, TK Kecil gitu deh. Karena Bodhi usianya nanggung, tapi saya sih tidak pernah mempermasalahkan. Buat apa sih sekolah buru-buru, yang penting happy lah hehe. Sejak K1 ini Bodhi sekolah pagi, walaupun seminggu pertama sempat ikut kelas yang siang, tapi karena yang siang hanya Bodhi sendirian sementara kelas pagi ada 4 orang teman, saya pikir akan lebih baik kalau dia mulai ada teman sekelas, setelah sebelumnya di Playgroup dia hanya sendirian, tapi saat kelas mandarin dan komputer digabung dengan teman-teman lain di kelas yang lebih besar. Dalam pertimbangan saya, dia akan belajar untuk menunggu giliran, belajar berbagi, dan berkomunikasi juga menjadi lebih aktif karena anak-anak di kelas yang pagi itu 3 dari 5 anak adalah anak-anak yang berbahasa Inggris aktif. Oh ya saya memang bukan ibu yang ketat bahwa anak hanya belajar bahasa Indonesia, saya malah tidak apa-apa kalau anak-anak saya berbicara dengan banyak bahasa selama mereka menikmati bukan karena dipaksa. Contohnya, di rumah mereka berbahasa Indonesia, di sekolah mereka berbahasa Inggris, ketika bertemu kakek nenek dari pihak papa mereka boleh berbahasa Mandarin, ketika dengan ibu saya mereka saya perbolehkan diajak berbahasa Bali. Saya tidak memaksa orang lain yang harus menyesuaikan diri dengan anak-anak saya, tapi sebaliknaya saya juga tidak memaksa anak-anak untuk menyesuaikan bahasa dengan orang lain. Bingung ya? Hmm tapi kayaknya anak-anak itu sudah alamiah ya, mereka bisa menyesuaikan diri. Kadang mereka memang berbicara campur-campur jadinya. Tapi saya tetap tidak menyalahkan, soalnya kalau saya menyalahkan sama juga dengan memaksakan, kalau saya minta mereka hanya berbahasa satu yaitu bahasa Indonesia (halah kok jadi sumpah pemuda gini hahaha) ya tetap nggak enak di mereka juga kan, kalo mereka bisa ya kenapa nggak?? Kalo  mereka nggak mau ya sudah pasti mereka menolak secara alami juga. Diikutin gimana enak anaknya ajalah, saya nggak mau terlalu ikut teori ini itu, selama anak menjalaninya dengan senang dan itu tidak berbahaya, saya ikut mengalir saja.
Nah soal jam sekolah pagi ini, awalnya saya sempat khawatir karena Bodhi adalah anak yang sangat susah bangun pagi, tapi ternyata hanya dengan sekali bujukan "kalau sekolah pagi banyak temannya", Bodhi belum pernah bolos karena telat bangun :) Dia hampir selalu bersemangat untuk ke sekolah, bahkan sewaktu demam sehari seminggu yang lalu, begitu badannya enakan dia minta masuk sekolah lho. Ini yang saya harapkan dari dulu semenjak Bodhi belum sekolah, kalau dia bersekolah dengan senang bukan terpaksa :) Semoga seterusnya begitu ya Bodhi. Oh ya Bodhi kan role model Citta adiknya, kalau Bodhi semangat sekolah semoga Citta juga mencontoh yang baik seperti ini :)
Di K1 ini Bodhi sudah mulai diajak membaca buku, dan saya kaget aja dong pas iseng-iseng saya ajak dia baca-baca buku ceritanya yang didapat dari sekolah, dia bilang "Sini Ma, Bodhi yang baca in buat Mama". Oh ok, saya pikir dia hanya gegayaan, ternyata dia bacain saya satu buku dari awal sampai selesai :) Mungkin menghapal, tapi menghapal satu buku tetap bikin saya kaget hahaha. Dan dia tidak membaca cepat seperti layaknya menghapal, dia lihat dulu dua huruf pertama lalu dbaca dengan benar. Saya senang tentu saja dan merasa perlu memberi apresiasi kepada ibu guru yang sudah membuat Bodhi mampu membaca satu buku cerita. Saya tahu itulah kebahagiaan seorang guru, ketika muridnya membuat sebuah pencapaian. Maka saya email gurunya, dan tentu saja Ibu Guru senang dan bilang "It's mean a lot for me, mum".  Dan untuk minggu ini Bodhi sudah belajar tentang tema baru lagi yaitu makanan dan minuman, berarti buku ceritanya pun sudah berganti lagi dan di hari kedua saya iseng lagi minta dia membaca dan dia mampu membaca sampai selesai. Ya tentu sekolah bukan hanya tentang membaca ya, tapi kalau mau diceritakan semua ya bisa gak habis-habis, ini saya highlight saja tentang membaca karena salah satu hal yang saya anggap saya tidak akan mampu ajarkan sendiri di rumah, salah satunya adalah membaca :D Kalau berhitung, tadi pagi-pagi sebelum sekolah saya iseng aja sih nanya, kalau mama punya pesawat 5 trus yang 2 belum landing di airport, berarti di airport baru ada berapa pesawat Bodhi?? Dan setelah dihitung, dia jawab : tiga mama :D
Lalu mengenai les musik. Bodhi baru saja selesai ujian Junior Music Class 1 dengan hasil baik. Padahal itu anak ya udah bikin mamanya deg-deg an karena kalo latihan banyak gayanya. Tapi pas ujian, kok bisa dia serius dan berhasil. Yang jadi catatan, diminta berani menyanyi lebih keras. Kalau penilaian permainan keyboard, menyanyikan dan mengenali notasi, penilaiannya sudah bagus. Kalau menurut saya, soal menyanyi keras itu karena dia masih ragu, takut salah. Karena memang lyric nya itu agak rumit tidak seperti lagu anak pada umumnya. Jadi Bodhi terlalu berhati-hati. Soalnya kalau dibilang takut menyanyi keras, pas di acara kenaikan kelas di sekolah dia nyanyi You Are My Sunshine sama gurunya (Bodhi nyanyi, gurunya main gitar), suaranya keras lho. Karena dia memang sudah yakin dan lyricnya mudah bagi dia. Tapi gapapa kok nak, Bodhi sudah melakukan yang terbaik. Dan tahu nggak sih kalo Bodhi ngerasa udah bikin saya senang (dia ngerti banget perubahan air muka saya tanpa perlu mamanya banyak bicara), dia yang nyium saya lho bukan saya yang nyium dia :D Sambil bilang gini, Bodhi pinter ya ma? Mungkin saking girangnya mamanya nggak cemberut hahaha.
Dulu kalau saya dengar cerita orang-orang tentang hebohnya anak mau ujian, hebohnya bikin pe-er, saya sudah sering membatin, kalau saya nanti bagaimana ya? Orangtua yang seperti bagaimanakah saya? Apakah akan banyak menuntut? Apakah saya akan ikut panik atau santai saja? Setelah saya mengalami sekarang, saya sendiri belum bisa menilai saya ini sudah menjadi orangtua yang bagaimana. Anak saya merasa bahagia nggak dengan cara orangtuanya mendidik dia. Dan memang sepertinya terlalu dini kalau berani menilai sekarang ya. Perjalananan masih jauh, masih banyak kondisi yang bisa terjadi. Pokoknya anak belajar ya orangtua belajar juga.  Tapi setidaknya sepanjang perjalanan saya belajar dengan anak-anak, terlalu berlebihan itu nggak baik ya memang hehehe. Terlalu santai yang nggak bagus, terlalu keras ya juga nggak bagus. Jalan tengah memang paling pas, nah pe-er nya kapan kita tahu itu sudah jalan tengah terbaik? Ya itu memang nggak bisa dikasi point-point tertentu. Beda kasus beda solusi, beda waktu beda lagi solusinya. Untuk kasus yang sama, jika setahun yang lalu bisa diatasi dengan solusi A, makan untuk saat ini belum tentu bisa lagi bisa diatasi dengan solusi A. Pokoknya belajar terussss deh judulnya.

Monday, June 11, 2012

Not For Sale


Hari ini sedang galau akibat PMS. Kepala agak cenut-cenut, produksi gas di perut meningkat, akibatnya deg-deg an nggak jelas dan sensi.
Akhirnya merangkai bunga. Merangkai bunga bukan berdasarkan pesanan orang lain, tapi pesanan sendiri sesuai kata hati. Kenapa saya bilang sesuai kata hati, karena rangkaian ini tidak harus pakai bunga yang begini begitu, tidak harus banyak bunga (yearite... kebanyakan pemesan bunga itu pengennya rangkaian bunga yang besar dan banyak bunganya tapi kalau bisa harga ekonomis). Tidak ada tema, tidak mesti warna tertentu. Pokoknya merangkai sesuka hati, demi menghilangkan galau. Cukup berhasil, cenut-cenut di kepala mulai berkurang bahkan setelah mandi dan makan buah juga sayur, akhirnya hilang tuntas termasuk gas yang bikin napas jadi pendek-pendek.
Selama merangkai saya berpikir, ternyata menata bunga dalam sebuah wadah itu sama seperti kita menata perasaan dan pikiran kita dalam sebuah wadah yang disebut kehidupan. Selama merangkai saya selalu tergoda untuk menambah lebih banyak lagi bunga dan daun. Sepertinya akan lebih indah kalau ditambah bunga di sisi ini, sepertinya akan lebih menarik jika disisipi daun di sebalah sana. Saya menduga dan merasa selalu ada yang kurang. Hmmm saya merasa kok mirip ya dengan bagaimana saya seringkali merasa akan lebih bahagia kalau bisa keliling Eropa sekarang ini, lebih keren kalau saya bisa menerbitkan buku, lebih hebat kalau florist saya bisa menangani proyek-proyek wedding besar dan bergengsi. Saya sibuk menambah label-label dalam hidup saya karena saya pikir yang sekarang ada ini masih kurang. Saya lupa sampai akhiranya rangkaian itu terlalu sesak, terlalu banyak yang bagus sampai akhirnya tidak ada lagi yang menonjol, semua berlomba ingin terlihat terbaik. Akhirnya yang saya pikir akan terlihat keren malah jadi terlihat biasa. Untung sih saya belum seambisius itu, bahkan kadang ada yang menganggap saya terlalu santai. Tapi sekali lagi saya beruntung, karena baru membayangkan saja saya sudah bergidik ngeri, saya takut jadi manusia ambisius yang terlalu sibuk menambah label diri. Dari merangkai bunga ini saya belajar satu hal: harus bisa menahan diri.

Setelah saya selesai merangkai bunga, saya mematut-matutnya seperti biasa seperti yang saya lakukan jika  merangkai bunga. Tapi karena kali ini merangkai bukan atas pesanan siapa-siapa, saya jadi tidak merasa bertanggung jawab untuk membuat sebaik mungkin, sehingga tanpa sadar saya lepas kontrol tidak memperhatikan keseimbangan rangkaian itu. Semestinya, beberapa saat sekali saya harus melihat dari jarak yang lebih jauh, memastikannya sudah sedap dipandang dan bisa segera menyadari jika ada yang tidak sesuai. Tapi namanya merangkai sesuka hati, hal itu tidak saya lakukan. Hasilnya, rangkaian yang seharusnya hadap depan menjadi miring sekian derajat sehingga mempengaruhi sudut pandang. Pelajaran lagi: jangan terlalu abai terhadap diri sendiri. Berusaha menyenangkan orang lain, tapi tetap harus ingat menyenangkan diri sendiri. Yang seimbang, itu yang terbaik.

Tapi mau diubah lagi, sudah terlalu sore. Jadi saya terima saja apapun hasilnya. Saat diletakkan atau difoto nanti dipilih sudut yang paling pas saja, sudut pandang dan cara memandang mempengaruhi object yang dilihat bisa menjadi tampak lebih baik atau sebaliknya. Dan sebagai manusia yang ingin melihat hanya yang baik tentu sangat masuk akal jika saya nanti memilih posisi yang terbaik yang bisa menghasilkan pencitraan yang indah bagi mata saya untuk melihatnya. Nah begitu juga jika suatu saat saya melakukan kesalahan, semoga saya bisa secara bijaksana melihatnya dari sudut pandang yang dapat membawa kekayaan bathin  bagi saya.

Seperti halnya saya selalu ingin menambah pengetahuan dan keahlian saya tentang merangkai bunga, demikian pula niat saya untuk selalu menyeimbangkan hidup semoga terus dan terus ada.

Wednesday, June 6, 2012

(Inginnya) Berbagi

Saya pernah bilang, kalau saya ingin belajar menulis yang lebih baik dan teratur dalam artian mudah dipahami oleh yang membaca. Untuk itu saya mencoba mengirim tulisan-tulisan ke media online yang wilayah edarnya adalah para orang tua. Yaaa pengen sih kirim jurnal ilmiah penemuan obat anti AIDS tapi ya sanggupnya baru ngoprek resep, itupun yang gampang-gampang, jadi baru coba-coba kirim resep hasil ujicoba dan sedikit modifikasi dan juga tulisan tentang pengalaman-pengalaman saya sejak menjadi orang tua. Kenapa saya kirimkan ke media online, karena pertama mereka pasti punya editor yang akan membaca naskah saya, membenahinya, sebelum dianggap layak tayang. Kedua,  pembacanya lebih banyak dibanding blog saya ini. Bukan untuk cari fans, halah nggak banget! Tapi ingin supaya lebih banyak yang membaca, kalau halnya resep inginnya banyak yang mencoba. Lebih senang lagi kalau sudah dibaca kemudian mereka mau berbagi cerita tentang hasil masakannya yang dibuat berdasarkan oprekan resep saya. Kalau ternyata ada yang bilang enak, priceless ternyata rasanya :) Melebihi perasaan dibayar dengan uang tunai. Kalau mungkin ada yang bilang ada kekurangan, tentu inginnya diberi tahu  kurangnya dimana, dikritik yang membangun gitu.
Nah setelah dulu saya pernah mengirimkan resep ke majalah mother and baby Indonesia, dan dimuat di edisi ulang tahunnya. Sekarang saya coba-coba lagi mengirimkan resep hasil sedikit utak-atik dari resep umum yang sudah ada. Trus, dimuat di the urban mama. Trus ada mama yang bilang kalau dia sudah mencoba dan katanya rasanya enak. Trus ada juga yang bilang akan mencoba dan sudah membantu mereka memberi alternatif lain mengolah nasi sisa semalam selain menjadi nasi goreng. Dan perasaan bahwa apa yang sudah kita lakukan ternyata berguna bagi orang lain itu, lagi-lagi priceless!
Jadi setidaknya tujuan saya sudah mulai ada yang tercapai. Ingin berbagi dengan lebih banyak orang. Karena bagi saya ini semacam 'usaha balas budi'. Saya sudah dapet banyaaak sekali dari internet, dari orang-orang yang sudah sukarela bersusah payah membagikan pengetahuan mereka. Merelakan waktunya, memberikan tenaganya, membagikan buah pikirannya melalui internet. Saya ingin seperti mereka, walaupun mungkin nantinya hanya hal kecil yang bisa saya lakukan. Saya ingin membahagiakan diri saya sendiri melalui hal-hal kecil yang bisa saya lakukan, walaupun mungkin bagi orang lain nampak remeh. Bukan masalah buat saya sih anggapan begitu, sepanjang saya happy  dan tidak merugikan orang lain :) Eh kalau ternyata ada yang merasa saya rugikan, let me know yaaaa :)

Friday, May 25, 2012

Panic Attack

Pertengahan bulan Juni nanti kita sekeluarga BESAR akan tour ke China. Diawali dari Shanghai dan berakhir di Hongkong. Oh ya kita memang akan pergi beramai-ramai, karena sekalian mau silaturahmi dengan keluarga besar papa mertua yang ada di kota Fuzhou. Kebayang bakal seru dan rame banget. Tapi kenapa yaaaa semakin dekat waktu keberangkatan, semakin panik rasanya. Untuk itu saya memutuskan, saya nggak mau panik sendirian. Maka saya bagi-bagi saja kepanikan saya disini,semoga bisa berkurang. :D

Saya berpikir, mungkin kepanikan itu disebabkan karena:
1. Saya belum pernah travelling selama itu yaitu 19 hari. Kebayang banyaknya perbekalan yang harus dibawa apalagi dengan dua anak balita.
2. Perginya ke China, yang mana yang saya dengar toiletnya banyak yang horor. Cerita teman saya, tahun 2000 dia kesana dan kembali lagi tahun 2007, situasi nggak banyak berubah!! Jadi jangan berharap tahun 2012 ini akan ada perbaikan. Duh kok serem gitu ya. Tapi kalau Shanghai dan Hongkong sih udah maju ya katanya, jadi jangan terlalu khawatir. Beijing juga lumayan. Tapi suami cukup menghibur, kan sudah menyelenggarakan Olimpiade, pasti banyak perubahan. Jangan terlalu dipikirkan katanya.
3. Itinerary nya padat banget. Rata-rata hampir setiap hari kita berpindah hotel, hanya di Beijing, Fuzhou dan Hongkong yang menetap 3hari2malam. Selebihnya nomaden. Entah berpindah dengan bus, kereta super cepat, pesawat terbang, ferry bahkan cable car!! Wew, komplit amat nanti moda transportasi yang kita naiki. Doa saya: semoga semua nggak kecapekan dan jatuh sakit.
4. Setelah dianalisa lebih dalam (cieeh apa coba) yang bikin saya panik adalah soal anak...anak... anak...anak..........pokoknya takut nanti mereka nggak betah karena disana akan banyak kunjungan yang bukan khusus anak-anak (selain disneyland di Hongkong nanti), takut mereka nggak cocok makanannya, takut mereka nanti susah ke toilet umum, kasihan citta harus pakai diaper sepanjang hari karena selama ini nggak pernah seperti itu. Haisshhh ini kan mau liburan, kenapa saya jadi banyak takutnya begini sih :(
5. Kalau berpindah hotel terus, kapan saya NYUCI BAJU nya??? Aneh memang kekhawatiran ini. Tapi masuk akal kan? Kalau mengandalkan jasa laundry hotel tentu MAHAL. Cuci sendiri sih bisa, tapi kapan bisa mengeringkan? Rasanya tidak akan cukup waktu. Mungkin jemur di jendela bus??? Hahaha -yuk mari tertawa dulu-

Akhirnya daripada saya mumet nggak jelas dan semakin hari semakin panik, sayapun memutuskan menyusun daftar barang bawaan nanti. Dan mulai mencicil pernak pernik yang bisa dimasukkan koper dulu sebelum memasukkan pakaian. Duh soal pakaian ini kalo travelling dengan anak-anak, pasti deh dikali dua. Bawa dua anak berarti empat kali lipat bawaanya. Semoga aja sih nggak sampe segitunya ya. Jadi saya membagi jenis bawaan sebagai berikut:
Yang bisa dipakai berulang kali dan yang mesti sekali-pakai-buang. Kalau ada yang bisa sekali-pakai- buang, rasanya lebih logis untuk dibawa supaya mengurangi jumlah cucian (lagi-lagi soal cucian, si papa pasti ketawa kalo baca ini) dan semakin hari semakin ringan bawaannya, semakin lowong kopernya, semakin cukup ruang untuk diisi barang belanjaan lain #eh.
Yang sekali pakai sudah saya list diantaranya:
- shampoo bawa yang sachet, kecuali untuk anak-anak bawa yang kemasan kecil. Kalau shampoo nggak berani mengandalkan yang disediakan hotel, lebih sering nggak cocoknya.
- sabun mandi bawa yang kemasan kecil aja, toh di hotel biasanya disediakan sabun mandi dan selama ini masih cocok-cocok aja dengan sabun mandi dari hotel.
- detergent bawa yanga bubuk aja, kemasan sachet. Pewangi juga bawa yang sachet aja.
- Diapers untuk Citta. Bawa secukupnya aja, mungkin untuk 3 hari aja, begitu sempat nanti beli disana aja. Kalo diapers kan makan tempat ya di koper. Mudah-mudahan cukup mudah mencari merk yang biasa dipakai Citta disana.
- Breastpad untuk mama yang masih menyusui. Bawa 25 pcs kayaknya nih. Tapi nggak apa-apa karena nggak makan tempat, tipis dan kecil saja.
- Pembalut untuk mama. Karena kayaknya bakalan dapet deh disana. Hmm para anggota rombongan wanita kayaknya bakalan semua mengalami, secara disana hampir 3 minggu. Hihi lucu juga ya :D
- Alas duduk toilet. Mungkin bawa 20-30 lembar cukup yah dan mari berdoa semoga proses output kita selalu lancar di pagi hari jadi bisa dilakukan di hotel saja :D
- CD kertas. Ini perlu banget saat kedatangan si M. Repot kan kalo mesti nyuci-nyuci seandainya bocor.
- Sabun cuci tangan. Katanya mesti bawa yang banyaaak. termasuk juga sabun tangan yang nggak perlu dibilas.
- Tissue, baik yang basah dan yang kering. Bawa secukupnya, bisa beli disana karena nggak mesti merk tertentu.

Nah kalau yang bisa dipakai berulang itu sepertinya saya harus bawa:
- peralatan makan untuk anak-anak. Sendok garpu untuk saya! Hahaha iya nih, kalo disuruh makan nasi pakai sumpit sementara nasinya yang udah kena kuah gitu, alamat saya bakalan paling belakang selesai makannya.
- Topi, sunglasses, UV lotion
- Slabber/bib. Kalau jalan seharian, dan bajunya anak-anak kena noda berarti gak bisa langsung cuci. Bisa-bisa nodanya menetap di pakaian.
- Jacket. Walaupun katanya bulan Juni itu musim panas di China, tapi nanti akan ada trip naik pesawat di malam hari (pasti dingin AC nya), naik ferry (pasti berangin). Nah anak-anak terutama mesti pake jacket.
- Handuk mandi anak-anak. Kalau papa mama, pakai yang disediakan hotel aja.
- Pisau lipat. Untuk kupas-kupas buah. Paling ampuh sebagai anti masuk angin dan pengganjal perut kalau-kalau jadwal makan terganggu. Nggak mau bawa biskuit yang kering-kering, biasanya malah jadi susah pup kalo travelling kebanyakan makan yang kering-kering gitu. Semoga semua sehat selama jalan-jalan nanti.

Kalau untuk urusan pakaian (yang dalam maupun luar) belum memutuskan akan membawa berapa pasang. Masih dianalisa dulu jadwal jalan-jalannya. Sekarang sih sudah saya buatkan di worksheet, supaya lebih mudah dibaca dan dipelajari, tsaaah. Nanti mudah-mudahan saya rajin untuk update blog soal bawaan pakaian ini.

Ternyata memang bisa jadi theraphy, membuat sedikit lebih tenang setelah ditulis. Selanjutnya, belanjaaa! Oh ya saya harus beli topi. Iyaaa saya memang suka sekali beli topi. Jad ini alasan lagi bisa beli topi, mau beli yang lebar tapi flexible masuk tas, Kalau topi lebar yang saya punya sekarang, bahannya kaku jadi kalau masuk tas, makan tempat gitu deh. Alasan logis kan? :P

Monday, May 7, 2012

Bagaimana rasanya?

Sering ngerasa jadi ibu paling bawel sedunia? Gara-gara serasa ngomong ama tembok, dikasi tahu bolak-balik kok belum juga dilakukan. Saya sering ngerasa begitu, walaupun banyak yang bilang anak saya sih masih 'normal' nggak bandel-bandel amat. Tapi namanya kalo lagi pengen buru-buru, inginnya begitu ngomong langsung dijalankan. Tapi saya juga sering lupa, saya ngomong sama anak kecil bukan robot kecil.

Tapi begitu mereka melakukan tanpa disuruh, padahal rasanya selama ini kok rasanya gak didengerin. Contohnya:
Bodhi mau berangkat sekolah, dan bersiap keluar kamar.
Citta langsung celingak celinguk dengan gelagat mau ngikut. Saya bilang,"Citta mau ikut turun?"
Citta jawab, "Ikuk".
Citta bangun dari duduknya, bergegas sambil membawa bukunya.
Saya pikir dia akan langsung menuju pintu keluar, tapi ternyata dia berbelok ke arah rak buku dan meletakkan bukunya ke tempat semula!!
Kalau sudah begini, bagaimana rasanya? Speechless :)

Sering juga ngerasa nggak enak hati saat anak lupa mengucapkan terima kasih ketika menerima pemberian seseorang, sementara kalau dengan mama papa di rumah nggak pernah lupa.
Tapi ketika suatu pagi saya sedang masak menyiapkan sarapan sekaligus bekal makan siang Bodhi, dan tiba-tiba Bodhi muncul di belakang saya lalu bertanya: "Mama lagi ngapain?"
Saya jawab,"masak buat sarapan dan bekal sekolah Bodhi."
Trus dia membalas,"Owwwh thank you Ma, sudah masakin buat Bodhi." Trus peluk saya dari belakang. Kalau sudah begitu, bagaimana rasanya??? Speechless lagi!! Apalagi dia pake owwhhh dengan penuh perasaan gitu nyebutnya :)

Lalu bicara mengenai mengekspresikan perasaan. Saya dan papa nya, menurut sahibulhikayat para orang tua kami masing-masing, adalah anak-anak pemalu. Boro-boro mengexpresikan perasaan di depan orang lain, ketemu orang lain aja udah malu kok. Nah berdasarkan sejarah yang tidak begitu menyenangkan itu, saya seringkali dibuat terkejut oleh sikap anak-anak saya (mungkin tingkah anak jaman sekarang hampir kebanyakan begitu ya). Kalau mereka melihat sesuatu yang menyenangkan, mereka tak segan berseru "Woooow...great!!" Itu kalau bodhi, kalau Citta lagi: "Woooooow..... "dengan mulut terbuka lebar trus 2 tangan menopang dagu membentuk huruf V. Hmmmm tahu kan gaya Chibi? :D
Atau....kalau dibuatkan sesuatu atau diberi sesuatu berupa makanan, Bodhi sering bilang (kalau dia suka makanannya)."Oh thank you ma! It's sooo delicious". Padahal belum juga dimakan :D
Kalau CItta? Tetep "Wooooow..." trus bilang "enak...enak..." sambil ngangguk-ngangguk.
Nah kalau sudah begitu, bagaimana rasanya?? Wooooow pengen uwel-uwel rambut mereka...!!!

Wednesday, May 2, 2012

Meniti Tangga Nada

Aish judulnya sok manis banget ya :) Tapi sesungguhnya ini menggambarkan perjalanan Bodhi (dan mama) belajar musik. Dulu saya pernah cerita soal ini. Nah akhirnya sampai juga kita ke kelas Junior Music, yang mana kelas JMC ini ada beberapa stage dan Bodhi baru di stage 1 #ngusap dahi yang gak keringetan. Di kelas ini sudah mulai bermain musik, kalau di Music Wonderland dulu lebih banyak seperti bermain, membuat anak 'merasai' musik melalui tinggi rendah keras lembut nya nada. Melatih anak belajar duduk diam, yang mana buat anak usia 3 tahunan itu bisa duduk diam adalah perjuangan tersendiri. Tapi jangan dibayangkan mereka dididik keras lho, semuanya tetap menyenangkan. Paling-paling kalau ada yang iseng pencet-pencet tuts keyboard sebelum diinstruksikan, hanya diingatkan:"hayooo tangan pintar di paha". Jadi mereka belajar memahami dan mendengarkan instruksi juga.
Bagi saya yang tidak bisa bermain musik, kelas Junior ini sudah semakin berat. Belajar membaca not balok, melatih tangan kanan, menghapal lagu. Bahkan minggu ini sudah mulai latihan dengan tangan kiri. Duh saya sampai menciumi Bodhi lho, sambil bilang "yang rajin ya latihannya, Bodhi pasti bisa".  Yang mana rasanya lebih tepat sebagai penyemangat diri saya sendiri untuk lebih sabar mendampingi Bodhi belajar, lebih tegas kalau dia mulai malas latihan. Tapi jujur, saya sendiri kadang berasa nggak enak juga harus tegas yang biasanya jadi diidentikkan dengan memaksa. Karena les musik ini kan bukan murni keinginan Bodhi, tapi kami orang tuanya yang mengarahkannya. Karena bagi kami ini baik (dan mudah-mudahan kami tidak salah). Jadi kalau meminta dia agak keras, rasanya gimanaaaa gitu. Ya akhirnya berusaha memilih kata-kata yang tidak dirasakan sebagai paksaan karena khawatir juga dia malah trauma belajar. Misalnya,"Bagaimana kalau kita latihan musik Ko?" atau "Sepertinya sudah lama nih Bodhi nggak latihan musik, kan katanya Bodhi mau seperti miss Lenny yang bisa main piano tanpa melihat tuts nya. Jadi mesti latihan supaya bisa sehebat Miss Lenny."
Bagaimana hasil latihan Bodhi sejauh ini? Bagi saya cukup menyenangkan hati. Walaupun latihan kadang lebih banyak becandanya, lha iya padahal dia sudah tahu do itu dimana, re itu yang mana, tapi kadang dimeleset-melesetin gitu tangannya. Emang Srimulat bener nih anak (eh ya pada tahu Srimulat nggak ya, hehehe). Apalagi kalau menyanyi, paling nggak suka kayaknya dia. Mungkin karena lyric lagunya yang cukup rumit bagi anak seusia dia ya (gurunya juga mengakui soal rumit ini). Tapi ya mungkin karena terjemahan dari jepang ke inggris kemudian ke indonesia, jadinya rumit deh. Mungkin dalam kosakata Jepang itu ber-rima dan gampang diingat, setelah diindonesiakan jadi tidak semudah itu. Mungkiiiiin lho ya. Dan soal malas bernyanyi ini juga disebut sebagai yang masih perlu ditingkatkan dari kemampuan Bodhi. Begitu yang disebut gurunya sewaktu parent meeting minggu lalu. Mengenai kemampuan memainkan keyboardnya udah cukup baik katanya. Dan yang masih perlu dilatih lagi itu Solfage nya. Bodhi suka males buka mulut katanya hehehe. Oh ya solfage itu yang kayak gini: lagu twinkle dinyanyikan solmisasinya jadi dodosolsollalasolfafamimireredo.. dst. Dan itu ya nggak cuma satu lagu itu, ada beberapa lagu lho yang mesti dilatih. Ish, kok mamanya yang jadi deg-deg an gini :D Tapi Bodhi pasti bisa kok kalau latihan :) #doa sendiri dalam hati hahaha
Nah, selasa kemarin ini saat les tiba-tiba ms.lenny menawarkan tiap anak maju ke depan satu-satu untuk memainkan satu partiture yang ditentukan. Yang mau ke depan diminta angkat tangan. Bodhi dapat giliran ke 5 dari total 6 anak peserta les hari itu. Soalnya telat melulu angkat tangannya. Tapi jadi bagus juga sih karena dia sudah lihat teman-temannya maju jadi dia makin semangat. Saat melihat anak-anak yang lain maju namun masih salah-salah memainkan partiturenya (yang mana sebenarnya bagi saya kemampuan dan keseriusan mereka lebih baik dari Bodhi), saya pun tidak berharap terlalu banyak. Asal Bodhi mau maju dan menyelesaikan lagunya, sudah lebih dari cukup. Eh tapi ternyata lumayaaaan banget, Bodhi lancar dan nggak tolah-toleh seperti biasanya. Nah kan bener, kalau dia serius sebenernya dia bisa. Kalau sama mama kok banyakan becandanya seeeh.
Saya sempat merekam, dan ini dia performance Bodhi kemarin :
Lumayan nggak? Lumayaaan dong.... hehehe
Oh ya sebenarnya saya sempat menimbang-nimbang untuk stop les musiknya ini lho, soalnya ngeliat Bodhi kok banyakan becandanya sih, nggak serius seperti beberapa temannya yang lain. Walaupun ada juga sih anak-anak yang banyak main-mainnya juga. Tapi ya namanya orang tua kadang timbul keinginan yang terlalu tinggi gitu deh. Maafkan mama ya Nak. Dan ternyata curhat itu ada gunanya juga ya, asal curhat sama orang yang bener. Soalnya ada orang tua anak yang saya ceritakan tentang Bodhi, dia juga merasakan hal yang sama dengan saya tapi solusinya dia adalah sepertinya akan stop aja karena sepertinya anaknya nggak suka dan nggak mau latihan di rumah. Padahal menurut saya si anak itu kalau di kelas lebih anteng dari Bodhi lho. Yah memang beda-beda mungkin ya, yang terlihat di permukaan tidak seperti yang sesungguhnya. Kalau dengan orang tua yang lain yang saya ajak cerita-cerita juga, saya mendapat sedikit kekuatan (halah) mendengar sarannya dia. Padahal anaknya ibu itu lebih aktif dari Bodhi tapi sama isengnya kayaknya, dan anaknya itu cewek :P Dia bilang, ya mungkin memang anak kita nggak akan jadi pemusik hebat, tapi tujuannya kita les-in musik kan bukan cuma itu yah. Ngelatih dia sabar, mau menunggu. Soalnya anak-anak saya sejak les musik, banyak perubahan di sikapnya. Trus selama cerita-cerita itu kok banyak banget miripnya Bodhi dengan anaknya ibu itu, terutama di jahil dan isengnya. Kayak ngubah-ngubah lyric lagu, atau disuruh belajar mendengarkan lagu yang berbahasa Indonesia, diubah-ubah ke bahasa Thailand lah, Jepang lah, Spanyol lah, hahaha. Lho kok denger cerita anak orang lain saya malah bisa ketawa, tapi pas Bodhi melakukannya kok saya gregetan ya??!! Duh duh duh.
Dan ada satu hal lagi yang saya petik dari pengalaman belajar musik dengan Bodhi (ehm iya dong saya mau gak mau ikutan belajar juga, walaupun rasanya kok mumet ya belajar musik itu, dasar dudul banget memang saya ini). Saya harus belajar 'melepas'. Melepas ego, melepas keinginan. Jangan berharap terlalu tinggi. Dijalani saja yang sudah menjadi pilihan. Seperti halnya memberikan Bodhi les musik adalah pilihan saya, karena saya yakin ini baik, maka saya harus konsekwen dengan apapun yang terjadi selama proses belajar itu. Dan ketika sudah bisa melepas, rasanya beban itu nggak ada. Dibawa senang saja, jadi nggak perlu ada drama berantem-berantem sama anak. Tapi latihan ya kudu tetep harus dong, lha sudah bayar mahal gitu, masak mau santai-santai. Tapi saya jadi berlatih memilih cara paling menyenangkan dan bijaksana untuk mengajak dia belajar dan latihan. Mikir dulu sebelum ngomong, pilih dulu kata-katanya. Dan rasanya kok jadi nggak capek ya, karena kita nggak  keluar kata-kata yang nggak perlu. Yang ternyata buang-buang energi. Lebih memeras otak, ya sudah pasti lah. Tapi daripada menyesal dikemudian hari karena kata-kata yang tidak sepantasnya didengar anak saya? Dan saya yakin, kalau saya latihan terus mengontrol kata-kata saya, itu akan menjadi kebiasaan jadi saya tidak perlu memeras otak lagi, karena sudah mengalir begitu saja kata-kata yang baik dan bijak. Tapi sampai detik ini, saya masih belum lulus. Masih mesti banyak latihan lagi :)

Monday, April 30, 2012

Nasi Tim Ayam Tahu


Berikut ini, cieeh bahasanya, resep nasi tim ayam tahu ala saya. Resep nasi tim ayam banyak banget di internet, jadi resep ini juga sebenarnya nggak jauh berbeda dengan yang sudah ada, hanya saya buat lebih sederhana secara bahan dan proses pembuatan.
Mari disimak, jika ingin menyimak :D
Eh iya, kalaupun kelihatan panjang resepnya, tapi bikinnya nggak seribet yang dibayangkan kok. Sayapun sebelumnya malas mencoba nasi tim karena kalau melihat resep kok rasanya banyak sekali prosesnya. Saya kan tipe kalo masak gak boleh lebih dari sejam termasuk persiapan, kalo lebih dari itu namanya ngeberantakin dapur :P

Kaldu Ayam
Bahannya:
100gr tulang dari dada ayam
500ml air matang

Prosesnya:
rebus sebentar tulang ayam untuk membersihkan kotoran dari ayam (biasanya keluar coklat-coklat, mungkin dari darah dll). sebentar saja, lalu buang air rebusan pertama itu. Selanjutnya barulah tulang dimasak lagi, sampai mendidih. Biarkan beberapa saat, sampai keluar minyak-minyak dari ayam, baru matikan api kompor.
Ini metode saya membuat kaldu ayam, kalau ada koreksi, silakan lho ya. Atau mungkin ada yang punya metode yang lebih enak. Senang sekali kalau saya dikasi tahu :)

Nasi tim
Bahannya:
Nasi putih 2 centong nasi 
nah penghematan waktunya menurut saya ada di proses ini. Jadi bukan dari mengaron beras. Jadi saya pakai nasi bukan beras.
200ml kaldu ayam
1 sdm minyak goreng untuk menumis
1 sdm minyak wijen untuk menumis
1 siung bawang putih, dicincang
1cm jahe digeprak atau diiris halus
1sdt kecap asin (saya pakai kikk*m*n, kalo kecap asin yang biasa, umumnya mengandung MSG)
garam secukupnya.

Prosesnya:
panaskan minyak goreng+minyak wijen, lalu tumis bawang putih dan jahe sampai harum.
Lalu masukkan nasi
tambahkan kecap asin, garam dan diaduk sebentar sampai tercampur rata
Tambahkan kaldu ayam, masak hingga air kaldu meresap ke nasi.
Karena pakai nasi dan bukan beras, jadi tidak memakan waktu lama.

Ayam Tumis
Bahannya:
150gr daging dari dada ayam, potong dadu
1 buah tahu putih (nasi tim biasanya pakai jamur kancing ya, tapi kalau nggak punya, diganti tahu putih ini juga enak lho)
1sdm minyak goreng untuk menumis
1sdm minyak wijen untuk menumis
1 siung bawang putih cincang halus
1sdm bawang bombay, cincang kasar
1 cm jahe, digeprak
1 sdm kecap manis
1 sdt kecap asin
sedikit garam
100ml kaldu ayam
1 sdm tepung maizena, diencerkan dengan air dingin

Prosesnya:
panaskan minyak goreng+minyak wijen
tumis bawang putih,bawang bombay dan jahe sampai wangi
lalu masukkan daging ayam, tumis sampai berubah warna
tambahkan tahu, garam, kecap asin, kecap manis, aduk rata
lalu tuang larutan maizena. Aduk hingga mengental dan ayam sudah matang.

Penyelesaian:
Siapkan wadah tahan panas.
Masukkan tumisan ayam di dasar wadah, lalu tambahkan nasi tim sampai wadah penuh.
Lalu kukus sampai nasi menjadi empuk dan aroma wangi menyebar :)
Setelah matang, keluarkan nasi tim dari wadah. Sajikan dengan tambahan irisan daun bawang (atau kalau punya bawang goreng pasti lebih enak ya,  tapi anak-anak saya nggak suka bawang goreng :D ) plusss kuah kaldu.
Untuk kuahnya ini saya pakai kaldu yang tersisa, saya saring lalu panaskan bersama seiris tipis jahe. Kalau mau tambah garam lagi, silakan. Tambahkan juga irisan daun bawang di kaldu.
Nah sebagai bekal sekolah, saya tambahkan juga telur puyuh supaya lucu :D
Dan menurut Bodhi, namanya Nasi Angry bird's nest.